Rabu, 02 September 2015

Gus Dur Dianggap Malaikat

Pembelaan lain ada pula dengan jalan mengkultuskan Gus Dur sebagai malaikat atau di dadanya ada malaikatnya. Berikut ini beritanya:
    Sebnyak 36 Kiyai, pengasuh pondok pesantren, dan guru NU dari empat kabupaten di Jawa Timur, mendatangi Gedung MPR/DPR, Senayn, Jakarta, Rabu (24/1 2001). Mereka meminta pimpinan DPR mempertahankan Presiden Abdurrhman Wahid dan Wapres Megawati Sukarno Putri sampai 2004.
   Ketu DPR Akbar Tanjung menemui rombongn yang dipimpin Fawaid As’ad Syamsul Arifin, pimpinan Pondok Pesantren (ponpes) Salafiyah Syafe’i, Situbondo. Dalam pertemuan itu, mereka juga berharap perbedaan pendapat di antara elite politik cukup dijadikan wacana, jangan mempengaruhi masyarakat bawah.
Wakil ketua DPR RI, Tosari Widjaya, Wakil Ketua Komisi II Ferry Mursyidan Baldan, dan anggota Komisi II Yahya Zaini ikut mendampingi Akbar menemui rombongan dari Kab Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, dan Jember itu.
   Menurut Lukman Yasir dari Jember, bagi orang NU, Abdurrahman Wahid bukan  sekadar presiden, tapi juga malaikat. “Gus Dur bukan saja tangannya yang harus dicium, tapi dadanya harus dipeluk, karena ada malaikat,” ungkapnya.
   Lukman lantas menyuruh Akbar membaca surah Al-Fatihah sebanyak 2000 kali. “Pasti bertemu ruh Gus Dur dalam mimpi,” kata Lukman. (Harian Republika, Kamis 25 Januari 2001, halaman 16).
      Sejumlah kiai dari Jawa Timur itu di antara mereka ada yang mengatakan, Gus Dur itu di dadanya ada malaikatnya, makanya tidak cukup disalami dengan mencium tangannya, tapi dadanya harus dipeluk, karena ada malaikatnya. Di samping itu, kata kiai ini, kalau membaca surat Al-Fatihah 2000 kali, pasti ketemu ruh Gus Dur dalam mimpi.
 Ungkapan Kiyai semacam itu menurut Islam telah menyangkut hal ghaib. Islam menegaskan, hal-hal yang ghaib itu hanya Allah SWT yang tahu. Demikian pula keberadaan malaikat,  termasuk hal ghaib. Jadi hanya Allah yang tahu. Sebagaimana Allah SWT tegaskan dalam Al-Qur’an:
   “Dan pada sisi Allah lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri….” (QS Al-An’aam/ 6: 59).
    Apabila mengatakan hal ghaib tidak berlandaskan keterangan dari wahyu ( Al-Qur’an ataupun Hadits Nabi saw yang shahih) maka orang itu telah melanggar ayat-ayat Al-Qur’an. Di samping itu, telah mengaku-aku dirinya mengetahui hal ghaib, yang hal itu Nabi saw pun tidak pernah melakukannya. Sedangkan berita-berita tentang hal ghaib yang disampaikan oleh Nabi saw tak lain hanya karena beliau diberi wahyu oleh Allah SWT.
   Berikut ini  sebuah hadits yang menegaskan betapa kita harus hati-hati mengenai hal ghaib.
   Bahwa Utsman bin Madh’un ra, seorang sahabat pilihan, ketika wafat, sedang Rasulullah saw hadir di sisinya dan mendengar seorang sahabat besar perempuan (shahabiyyah) Ummu Al-‘Ala’ berkata, “Kesaksianku atasmu Abu As-Saib (“Utsman bin Madh’un), bahwa Allah sungguh telah memuliakanmu”. Maka Rasulullah saw membantahnya dengan berkata:
  وما يدريك أن الله قد أكرمه؟
“Apa yang menjadikan kamu tahu bahwa Allah sungguh telah memuliakannya?”
   Ini adalah peringatan yang besar dari Rasulullah saw kepada sahabat wanita ini karena dia telah menetapkan hukum dengan hukum yang menyangkut keghaiban. Ini tidak boleh, karena tidak ada yang menjangkau hal ghaib kecuali Allah SWT. Tetapi shahabiyyah (sahabat wanita) ini membalas dengan berkata:
   “Subhanallaah, ya Rasulallah!! Siapa (lagi) kah yang akan Allah muliakan kalau Dia tidak memuliakannya?”  Artinya, jika Utsman bin Madh’un ra, tidak termasuk orang yang dimuliakan Allah SWT maka siapa lagi yang masih tersisa pada kita yang akan dimuliakan Allah SWT. Ini jawaban yang sangat mengena dan signifikan/ cukup bermakna. Tetapi Rasul saw menolaknya dengan ucapan yang lebih mengena dari itu, di mana beliau bersabda:
  والله إني لرسول الله لا أدري ما يفعل بي غدا.

“Demi Allah, saya ini benar-benar utusan Allah, (tetapi) saya tidak tahu apa yang Dia perbuat padaku esok.”
   Ini adalah puncak perkara. Rasul sendiri yang dia itu orang yang dirahmati dan disalami oleh Allah, beliau wajib berhati-hati dan mengharap rahmat Allah. Dan di sinilah Ummu Al-‘Ala’ sampai pada hakekat syara’ yang besar, maka dia berkata:       “Demi Allah, setelah ini saya tidak akan menganggap suci terhadap seorang pun selama-lamanya.” (HR Al-Bukhari 3/385, 6/223 dan 224, 8/266 dalam Fathul Bari, dan Ahmad 6/436 dari Ummi Al-‘Ala’ Al-Anshariyyah bi nahwihi).  
    Dengan demikian, ummat Islam wajib menolak ucapan siapapun menyangkut hal ghaib, kecuali ada dalilnya (ayat atau hadits yang shahih).
   Kemudian tentang saran agar membaca  Al-Fatihah 2000 kali supaya bisa bertemu ruh Gus Dur dalam mimpi itu mengandung dua masalah besar.
Pertama, masalah membuat syari’at berupa membaca surat Al-Fatihah 2000 kali. Ini merupakan pelanggaran, sebab tidak ada yang berhak membuat syari’at kecuali Allah SWT. Sekalipun membaca Al-Fatihah itu baik, namun kalau disyaratkan dengan bilangan 2000 kali, itu harus ada dalilnya. Kalau tidak (dan memang tidak ada dalilnya), maka artinya adalah membuat syari’at baru. Ini tidak ada hak bagi siapapun, karena syari’at telah sempurna. Allah SWT berfirman, yang artinya:
   “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan  kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Maaidah: 3).
    Nabi Muhammad saw bersabda:
Jauhilah olehmu hal-hal (ciptaan) yang baru (dalam agama). Maka sesungguhnya setiap hal (ciptaan) baru (dalam agama) itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dia berkata hadits hasan shahih).
   Dan pada riwyat lain:
   “Barangsiapa melakukan amalan, bukan atas perintah kami, maka amalan itu tertolak.” (Diriwayatkan Muslim).
   Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa mengada-adakan pada perkara kami ini, sesuatu yang bukan darinya, maka itu adalah tertolak.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).
   Jadi, mensyaratkan dengan membaca Al-Fatihah 2000 kali itu jelas bid’ah, tertolak, karena tidak ada di dalam perintah Allah mupun Rasul-Nya.

   Masalah kedua, berbicara tentang ruh, itu hanya Allah SWT yang tahu. Orang yang menjanjikan akan bisa bertemu dengan ruh seseorang dengan syarat tertentu ataupun tanpa syarat, itu telah melanggar batas-batas yang diperkenankan Islam. Bagaimana bisa, orang yang tidak diberi wewenang mengurusi ruh, bahkan tahu saja tidak, akan bisa menentukan pertemuan dengan ruh. Nabi saw  yang jelas utusan Allah pun ketika ditanya tentang ruh, maka Allah menyuruhnya untuk menjawab dengan ucapan bahwa ruh itu termasuk urusan Allah SWT.
   “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Israa’/ 17: 85).

   Ayat itu jelas. Namun, kemungkinan orang yang mengaku-ngaku bisa mengurusi ruh hingga berani memberi syarat-syarat untuk mempertemukan ruh itu akan melandasi kesesatannya dengan menyelewengkan penafsiran ayat tersebut, sebagaimana yang pernah saya dengar langsung dari seorang pembela tasawuf sesat bahwa lafal min amri robbii itu artinya bukan “termasuk urusan Tuhanku” tetapi ia artikan: “termasuk alam amr Tuhanku”. Jadi ruh itu menurut pandangan pembela sufi sesat ini, adalah termasuk alam amr (salah satu jenis alam) Tuhan. Orang itu tidak menjelaskan, dari mana dia memperoleh penafsiran yang sangat aneh dan menyeleweng itu.    
    Kebohongan-kebohongan semacam itu –yaitu mengaku-ngaku dengn mampu memastikan akan bertemunya ruh dengan ruh—itu bukan kebohongan biasa, namun berakibat fatal, yaitu rusaknya aqidah/ keimanan. 

   Kalau rombongan Kiyai yang datang ke Jakarta untuk melabrak ketua DPR saja kepercayaannya sesesat itu, maka betapa lagi kiyai-kiyai yang semodel dengannya yang tak berani melabrak ke Jakarta. Dan betapa amburadulnya lagi kepercayaan para murid-muridnya dan orang awam yang di bawah tipuan kebohongan mereka.

Dan sangat memprihatinkan sekali, kenapa pengucapnya itu disebut kiyai atau ulama.
    Itu belum pembelaan-pembelaan ngawur yang sifatnya mengadakan pengrusakan sarana-sarana Ummat Islam seperti merusak masjid, madrasah, dan kantor-kantor Muhammadiyah plus Al-Irsyad serta HMI di berbagai tempat. Kalau kantor-kantor Golkar yang dibakar atau dirusak di mana-mana, itu tak ada urusan dalam buku ini, masalahnya buku ini lebih memfokuskan pada urusan Ummat Islam atau bahkan agama Islam itu sendiri. Termasuk penghalangan jalan dengan menebangi pohon lalu dihalangkan ke sepanjang jalan di sebagian wilayah Jawa Timur, serta penutupan pelabuhan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk yang menghubungkan Jawa-Bali yang dilakukan para pendukung Gus Dur, itu adalah salah satu bentuk dukungan terhadap Gus Dur dalam bentuk perusakan atau merugikan kepentingan umum.

   Betapa ngerinya memandang sosok-sosok model itu. Sudah aqidah mereka itu rusak tidak keruan, masih pula perbuatannya pun merusak dan merugikan Islam. Semua itu bisa serempak dan meluas serta membesar bahaya pengrusakannya lantaran ada wadahnya.   

    Berarti telah sukseslah para perintis pembikinan wadah itu yang telah bercapek-capek untuk mewujudkan adanya wadah yang mereka perjuangkan sejak zaman penjajahan Belanda. Dan itulah yang insya Allah jadi bekal di alam baqa’ yang ganjarannya senantiasa mengalir selama wadah itu masih difungsikan, atau ajaran wadah itu masih diamalkan orang.
     Mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk-Nya kepada kita sekalian. Amien, ya Robbal ‘aalamien.   


Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar