Pembelaan lain ada pula dengan jalan mengkultuskan
Gus Dur sebagai malaikat atau di dadanya ada malaikatnya. Berikut ini
beritanya:
Sebnyak 36 Kiyai, pengasuh pondok
pesantren, dan guru NU dari empat kabupaten di Jawa Timur, mendatangi Gedung
MPR/DPR, Senayn, Jakarta, Rabu (24/1 2001). Mereka meminta pimpinan DPR
mempertahankan Presiden Abdurrhman Wahid dan Wapres Megawati Sukarno Putri
sampai 2004.
Ketu DPR Akbar Tanjung menemui rombongn
yang dipimpin Fawaid As’ad Syamsul Arifin, pimpinan Pondok Pesantren (ponpes)
Salafiyah Syafe’i, Situbondo. Dalam pertemuan itu, mereka juga berharap
perbedaan pendapat di antara elite politik cukup dijadikan wacana, jangan
mempengaruhi masyarakat bawah.
Wakil ketua DPR RI, Tosari Widjaya, Wakil
Ketua Komisi II Ferry Mursyidan Baldan, dan anggota Komisi II Yahya Zaini ikut
mendampingi Akbar menemui rombongan dari Kab Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi,
dan Jember itu.
Menurut Lukman Yasir dari Jember, bagi
orang NU, Abdurrahman Wahid bukan sekadar presiden, tapi juga malaikat. “Gus
Dur bukan saja tangannya yang harus dicium, tapi dadanya harus dipeluk, karena
ada malaikat,” ungkapnya.
Lukman lantas menyuruh Akbar membaca
surah Al-Fatihah sebanyak 2000 kali. “Pasti bertemu ruh Gus Dur dalam mimpi,”
kata Lukman. (Harian Republika, Kamis 25 Januari 2001, halaman
16).
Sejumlah kiai dari Jawa Timur itu di antara mereka
ada yang mengatakan, Gus Dur itu di dadanya ada malaikatnya, makanya tidak cukup
disalami dengan mencium tangannya, tapi dadanya harus dipeluk, karena ada
malaikatnya. Di samping itu, kata kiai ini, kalau membaca surat Al-Fatihah 2000
kali, pasti ketemu ruh Gus Dur dalam mimpi.
Ungkapan Kiyai semacam itu menurut Islam telah
menyangkut hal ghaib. Islam menegaskan, hal-hal yang ghaib itu hanya Allah SWT
yang tahu. Demikian pula keberadaan malaikat, termasuk hal ghaib. Jadi hanya
Allah yang tahu. Sebagaimana Allah SWT tegaskan dalam Al-Qur’an:
“Dan pada sisi Allah lah kunci-kunci semua yang
ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri….” (QS Al-An’aam/ 6:
59).
Apabila mengatakan hal ghaib tidak berlandaskan
keterangan dari wahyu ( Al-Qur’an ataupun Hadits Nabi saw yang shahih) maka
orang itu telah melanggar ayat-ayat Al-Qur’an. Di samping itu, telah mengaku-aku
dirinya mengetahui hal ghaib, yang hal itu Nabi saw pun tidak pernah
melakukannya. Sedangkan berita-berita tentang hal ghaib yang disampaikan oleh
Nabi saw tak lain hanya karena beliau diberi wahyu oleh Allah SWT.
Berikut ini sebuah hadits yang menegaskan betapa
kita harus hati-hati mengenai hal ghaib.
Bahwa Utsman bin Madh’un ra, seorang sahabat pilihan,
ketika wafat, sedang Rasulullah saw hadir di sisinya dan mendengar seorang
sahabat besar perempuan (shahabiyyah) Ummu Al-‘Ala’ berkata, “Kesaksianku atasmu
Abu As-Saib (“Utsman bin Madh’un), bahwa Allah sungguh telah memuliakanmu”. Maka
Rasulullah saw membantahnya dengan berkata:
وما
يدريك أن الله قد أكرمه؟
“Apa yang menjadikan kamu tahu bahwa
Allah sungguh telah memuliakannya?”
Ini adalah peringatan
yang besar dari Rasulullah saw kepada sahabat wanita ini karena dia telah
menetapkan hukum dengan hukum yang menyangkut keghaiban. Ini tidak boleh, karena
tidak ada yang menjangkau hal ghaib kecuali Allah SWT. Tetapi shahabiyyah
(sahabat wanita) ini membalas dengan berkata:
“Subhanallaah, ya Rasulallah!! Siapa (lagi)
kah yang akan Allah muliakan kalau Dia tidak memuliakannya?” Artinya, jika
Utsman bin Madh’un ra, tidak termasuk orang yang dimuliakan Allah SWT maka siapa
lagi yang masih tersisa pada kita yang akan dimuliakan Allah SWT. Ini jawaban
yang sangat mengena dan signifikan/ cukup bermakna. Tetapi Rasul saw menolaknya
dengan ucapan yang lebih mengena dari itu, di mana beliau bersabda:
والله
إني لرسول الله لا أدري ما يفعل بي غدا.
“Demi Allah, saya ini benar-benar utusan
Allah, (tetapi) saya tidak tahu apa yang Dia perbuat padaku esok.”
Ini adalah puncak perkara. Rasul sendiri yang dia itu
orang yang dirahmati dan disalami oleh Allah, beliau wajib berhati-hati dan
mengharap rahmat Allah. Dan di sinilah Ummu Al-‘Ala’ sampai pada hakekat syara’
yang besar, maka dia berkata: “Demi Allah, setelah ini saya tidak akan
menganggap suci terhadap seorang pun selama-lamanya.” (HR Al-Bukhari 3/385,
6/223 dan 224, 8/266 dalam Fathul Bari, dan Ahmad 6/436 dari Ummi Al-‘Ala’
Al-Anshariyyah bi nahwihi).
Dengan demikian, ummat Islam wajib menolak ucapan
siapapun menyangkut hal ghaib, kecuali ada dalilnya (ayat atau hadits yang
shahih).
Kemudian tentang saran agar membaca Al-Fatihah 2000
kali supaya bisa bertemu ruh Gus Dur dalam mimpi itu mengandung dua masalah
besar.
Pertama, masalah membuat syari’at berupa membaca surat
Al-Fatihah 2000 kali. Ini merupakan pelanggaran, sebab tidak ada yang berhak
membuat syari’at kecuali Allah SWT. Sekalipun membaca Al-Fatihah itu baik, namun
kalau disyaratkan dengan bilangan 2000 kali, itu harus ada dalilnya. Kalau tidak
(dan memang tidak ada dalilnya), maka artinya adalah membuat syari’at baru. Ini
tidak ada hak bagi siapapun, karena syari’at telah sempurna. Allah SWT
berfirman, yang artinya:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu
agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam
itu jadi agama bagimu.” (Al-Maaidah: 3).
Nabi Muhammad saw bersabda:
“Jauhilah olehmu hal-hal (ciptaan) yang baru (dalam
agama). Maka sesungguhnya setiap hal (ciptaan) baru (dalam agama) itu adalah
bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dia
berkata hadits hasan shahih).
Dan pada riwyat lain:
“Barangsiapa melakukan amalan, bukan atas perintah
kami, maka amalan itu tertolak.” (Diriwayatkan Muslim).
Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa mengada-adakan pada
perkara kami ini, sesuatu yang bukan darinya, maka itu adalah tertolak.”
(Diriwayatkan Al-Bukhari dan
Muslim).
Jadi, mensyaratkan dengan membaca Al-Fatihah 2000
kali itu jelas bid’ah, tertolak, karena tidak ada di dalam perintah Allah mupun
Rasul-Nya.
Masalah kedua, berbicara tentang ruh, itu
hanya Allah SWT yang tahu. Orang yang menjanjikan akan bisa bertemu dengan ruh
seseorang dengan syarat tertentu ataupun tanpa syarat, itu telah melanggar
batas-batas yang diperkenankan Islam. Bagaimana bisa, orang yang tidak diberi
wewenang mengurusi ruh, bahkan tahu saja tidak, akan bisa menentukan pertemuan
dengan ruh. Nabi saw yang jelas utusan Allah pun ketika ditanya tentang ruh,
maka Allah menyuruhnya untuk menjawab dengan ucapan bahwa ruh itu termasuk
urusan Allah SWT.
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
Katakanlah: Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi
pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Israa’/ 17: 85).
Ayat itu jelas. Namun, kemungkinan orang yang
mengaku-ngaku bisa mengurusi ruh hingga berani memberi syarat-syarat untuk
mempertemukan ruh itu akan melandasi kesesatannya dengan menyelewengkan
penafsiran ayat tersebut, sebagaimana yang pernah saya dengar langsung dari
seorang pembela tasawuf sesat bahwa lafal min amri robbii itu artinya
bukan “termasuk urusan Tuhanku” tetapi ia artikan: “termasuk alam amr
Tuhanku”. Jadi ruh itu menurut pandangan pembela sufi sesat ini, adalah
termasuk alam amr (salah satu jenis alam) Tuhan. Orang itu tidak menjelaskan,
dari mana dia memperoleh penafsiran yang sangat aneh dan menyeleweng itu.
Kebohongan-kebohongan semacam itu –yaitu
mengaku-ngaku dengn mampu memastikan akan bertemunya ruh dengan ruh—itu bukan
kebohongan biasa, namun berakibat fatal, yaitu rusaknya aqidah/ keimanan.
Kalau rombongan Kiyai yang datang ke Jakarta untuk
melabrak ketua DPR saja kepercayaannya sesesat itu, maka betapa lagi
kiyai-kiyai yang semodel dengannya yang tak berani melabrak ke Jakarta. Dan
betapa amburadulnya lagi kepercayaan para murid-muridnya dan orang awam yang di
bawah tipuan kebohongan mereka.
Dan sangat memprihatinkan sekali, kenapa pengucapnya itu
disebut kiyai atau ulama.
Itu belum pembelaan-pembelaan ngawur yang sifatnya
mengadakan pengrusakan sarana-sarana Ummat Islam seperti merusak masjid,
madrasah, dan kantor-kantor Muhammadiyah plus Al-Irsyad serta HMI di berbagai
tempat. Kalau kantor-kantor Golkar yang dibakar atau dirusak di mana-mana, itu
tak ada urusan dalam buku ini, masalahnya buku ini lebih memfokuskan pada urusan
Ummat Islam atau bahkan agama Islam itu sendiri. Termasuk penghalangan jalan
dengan menebangi pohon lalu dihalangkan ke sepanjang jalan di sebagian wilayah
Jawa Timur, serta penutupan pelabuhan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk yang
menghubungkan Jawa-Bali yang dilakukan para pendukung Gus Dur, itu adalah salah
satu bentuk dukungan terhadap Gus Dur dalam bentuk perusakan atau merugikan
kepentingan umum.
Betapa ngerinya memandang sosok-sosok model itu.
Sudah aqidah mereka itu rusak tidak keruan, masih pula perbuatannya pun merusak
dan merugikan Islam. Semua itu bisa serempak dan meluas serta membesar bahaya
pengrusakannya lantaran ada wadahnya.
Berarti telah sukseslah para perintis pembikinan
wadah itu yang telah bercapek-capek untuk mewujudkan adanya wadah yang mereka
perjuangkan sejak zaman penjajahan Belanda. Dan itulah yang insya Allah jadi
bekal di alam baqa’ yang ganjarannya senantiasa mengalir selama wadah itu masih
difungsikan, atau ajaran wadah itu masih diamalkan orang.
Mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk-Nya kepada
kita sekalian. Amien, ya Robbal ‘aalamien.
Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz
Kunjungi juga:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar