Kamis, 30 Juli 2015

SIAPA IMAM MAHDI ITU?

Satu hal yang menarik untuk disisipkan di sini masih perihal KEDATANGAN KEMBALI ALMASIH ialah, bahwa bukan saja kaum Kristen yang memiliki kepercayaan "kedatangan kembali" itu melainkan pada kaum Muslimin ternyata pula menyimpan kepercayaan itu. Entah siapa yang berhak di antara kedua ummat ini, ataukah keduanya sama-sama berhak?

Jika kedatangan Almasih bagi ummat Kristen merupakan HALELUYAH KEMENANGAN, maka bagi ummat muslimin merupakan DATANGNYA YANG HAQ SIRNANYA YANG BATIL. Bukankah Almasih akan datang dan menyatakan bahwa Islam adalah Agama sejati? Bukankah Almasih akan mendirikan Shalat berjama'ah serta menjadi ma'mum di shaf pertama? Alangkah bahagia saat-saat demikian!

Disamping kebahagiaan ummat Muslimin karena Almasih datang untuk kemenangan Islam, terpetik pula sebuah "kabar suka" bahwa kebahagiaan akan melimpah, kemenangan akan mutlak yaitu pada saat seseorang yang bergelar IMAM MAHDI datang di tengah-tengah ummat Muslimin. Yang lebih meyakinkan lagi ialah bahwa munculnya Imam Mahdi itu bertepatan waktunya dengan kedatangan Almasih. Beliau inilah yang didorong oleh Almasih untuk menjadi imam dalam shalat berjama'ah itu. Kedatangan Imam Mahdi telah tersebut dalam beberapa Hadits.
Di antara Missi-missinya yang utama ialah:
  • Beliau akan membagi harta sama rata;
  • Beliau menegakkan Agama pada akhir zaman seperti Nabi Muhammad saw. pada permulaan zaman.
  • Beliau akan menegakkan keadilan di bumi.
  • Beliau akan berperang atas Sunnah Rasul.
  • Beliau akan membunuh babi dan salib.1  
  • Ummat Islam akan mendapat kesenangan dari padanya yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya.
  • Beliau tidak membangunkan orang tidur dan tidakmenumpahkan darah.
  • Penduduk Bumi dan Langit serta burung-burung suka pada kekhalifahannya. Demikianlah missi-missi utamanya. Begitu hebat makna kedatangannya, bahkan terpetik berita-berita yang mengatakan bahwa meriam-meriam musuh yang memuntahkan peluru untuk membunuh kaum Muslimin konon mendadak berobah menjadi cairan dingin. Jika demikian kondisi dan situasinya, beliau tentunya sangat diharapkan mengingat penderitaan ummat sudah semakin parah.
Akan tetapi kapan beliau datang? Soalnya hanya tunggu waktu saja; dan sesudah sekian tahun bahkan sekian abad belum juga terjawab "kapan beliau datang," maka yang menunggu bertambah menderita sedang yang ditunggu belum juga tiba.

Last but not least harapan ummat yang menderita telah terpenuhi. Secara mengejutkan namun menggembirakan, sejarah Islam telah menampilkan Imam Mahdi; Beliau sudah datang! Siapa orangnya, dimana munculnya, kapan datangnya, inilah yang sulit memastikan! Sebab Imam Mahdi yang datang tidak seorang melainkan banyak. Bahkan yang menambah sulit lagi masih ada Imam-imam Mahdi yang belum datang. Mereka juga ditunggu-tunggu kedatangannya.

Untuk memudahkan Kita mengenal para Imam Mahdi tersebut, baiknya kita memisalkan mereka dalam dua masa. Masa pertama ialah masa "mereka yang belum datang" dan masa kedua ialah "masa mereka yang sudah datang." Mereka yang akan datang menurut aliran Syiah Sabaiyah adalah Ali bin Abi Talib; Menurut Syiah Kaisaniyah adalah Mohammad Ali Hanafiyah. Menurut Syiah AI-Jaridiyah, Mohammad bin Abdullah An-Nafsus Zakiyah adalah Mahdi yang ditunggu-tunggu. Menurut Syiah Imamiah, Mohammad bin Hasan Al-Askari adalah Mahdi yang ditunggu-tunggu. Adapun para Mahdi yang "sudah datang" antara lain ialah: Ubaidullah bin Mohammad Alhabib oleh Syiah Qaramithah dianggap Mahdi. Mohammad bin Ismail bin Ja'far oleh golongan Syiah Ismailiyah dianggap Mahdi. Golongan Muwahidin menganggap Mohammad bin Taumert adalah Mahdi. Segolongan Muslim di India menganggap Ahmad bin Mohammad Berelvi adalah Mahdi. Golongan Ahmadiyah di India menganggap Mirza Ghulam Ahmad adalah Mahdi. Golongan Babiyah menganggap Ali Mohammad Al-Bab adalah Mahdi. Penduduk Sudan Afrika menganggap Mohammad Ahmad Donggola adalah Mahdi. Mahdi-mahdi yang lain seperti Mahdi dari Rief Afrika, dari Tunisia, dari Marokko, dari Pegunungan Shahrazur, dari Kurdistan, dari Senegal dan Mahdi dari Jawa timur Indonesia, merekapun telah datang dan masing-masing membawa missi-missi utamanya.
2

Demikian kumpulan Mahdi yang tercatat dalam sejarah Islam. Kenyataan dari mereka yang telah datang itu sama sekali tidak sanggup memenuhi missi-missi utamanya. Jangankan seluruh missi sanggup dipikulnya, pada tugas pembagian harta sama-rata saja, beliau-beliau itu tidak sanggup melaksanakannya; Juga mereka tidak membunuh BABI atau memecah SALIB, baik harafiyah maupun kiasan. Apalagi memberi kesenangan  pada kaum Muslimin yang belum pernah dirasakannya.

Bagaimana dengan Mandi-mahdi yang belum datang?! Apakah kaum Muslimin harus menanti kedatangan mereka? Padahal, penantian itu membuat ummat jadi lamban. Lebih-lebih penantian yang tak menentu, entah tahunan, puluhan tahun, abad bahkan ribuan tahun. Ummat Muslimin akan kehilangan langkah, statis, mati gerak, bahkan tertelan zaman. Mengambil sikap yang baik adalah tidak menanti dan tidak terlintas dalam pikiran untuk menanti. Lebih baik lagi ialah membuang jauh doktrin kedatangan kembali Almasih maupun Almahdi.

Namun andaikata sejarah Islam nanti menampilkan tokoh-tokoh tersebut, maka biarkanlah nama beliau, tempat munculnya, waktu datangnya berada dalam ketentuan TUHAN. 



Sponsor link:


KEDATANGAN KEMBALI ALMASIH

Pada akhirnya diketemukanlah semacam obat penawar yang kelihatannya dipaksakan pada tubuh yang sedang sakit itu. Obatnya tidak lagi berkisar pada cerita “KUBURAN KOSONG” atau pada “KEMATIAN TUHAN DISALIB” atau pada cerita “BANGKIT DARI MAUT” melainkan pada cerita baru: “KEDATANGAN KEMBALI ALMASIH” ke atas dunia ini. Entah kapan ia datang, namun ia sudah berjanji untuk kembali dan mendirikan kerajaan Allah yang kekal. Charles H. Spurgeon berkata dalam kitabnya:

“Drama keseluruhan yang meliputi kebangkitan kembaliitu belum komplit jika Yesus Kristus belum juga datang kembali ke dunia sebagai Raja. Jika dia sudah datang, dia tidak akan dihina, diludahi lagi. Setiap orang akan berlutut padanya. Dia akan datang bersama salib namun tidak sepotongpun paku akan melukai tangannya yang halus lembut itu. Dia datang untuk mendirikan kerajaan Allah yang kekal dan akan memerintah untuk selama-lamanya. Haleluyah!”1

Demikian makna kedatangan kembali Yesus ke dunia; menjadiobat penawar, sinar cerah dan keyakinan usang yang diperbarui.

Masa keragu-raguan tampaknya hilang sudah karena konsep baru telah diperoleh. Akan tetapi pada hakikatnya dalam praktek penindoktrinasian konsepsi baru tersebut ternyata tidak sanggup mendominir ratio maupun fitrah insaniah di dada setiap orang. Logika mulai menolak, dada mulai sangsi. Bentrokan-bentrokan opini timbul kembali. Masih belum terjawab juga soal: “SIAPA YESUS ITU.” Ahli sejarah Inggris yang mashur, Prof. J. Arnold Toynbee berkata:

“Sudah jelas bahwa kedatangan kembali Almasih mula-mula dipusakai sendiri oleh gereja, tatkala mereka diliputi kelemahan kepercayaan serta kegagalan dalam pokok keimanan mereka. Jelas pula bahwa doktrin kedatangan kembali menjalar dengan cepat pada masyarakat, sekte-sekte dan orang-orang yang sama-sama merasa serta mengalami kekecewaan karena kehilangan pegangan.”2


Demikian yang terjadi doktrin kedatangan kembali Almasih menyerap ke dalam tubuh kristen hanya sebagai penawar iman “yang semu belaka.” Ia tidak lebih dari pada suatu sumbangan konsep yang harus diterima oleh setiap Kristiani yang setiap waktu pula bersiap-siap pergi karena ditolak oleh rongga-rongga dada yang sesak yang telah lama menyimpannya, maupun oleh logika kritis yang memberontak atas dogma membeku yang melekat padanya.

Sponsor link:

AGAMA KRISTEN NYARIS ROBOH

7 April tahun 30 A.D. (Anno Domini)1 bertepatan dengan hari Jum'at, YESUS KRISTUS putera Tuhan yang diutus pada domba-domba Israel telah dijatuhi hukuman mati, disalib! Demikianlah cerita yang tersurat dalam kitab suci ummat Kristen, Perjanjian Baru.

Di lembah GOLGOTTA Bethlehem Yerusalem, kira-kira pukul 3 sore pada Jum’at yang na’as itu, dalam keadaan hampir telanjang, Yesus sang Putera telah menjalani hukuman matinya. Itulah klimaks dari kegagalan missinya. Ia gagal total menanam benih di atas ketandusan bangsanya. James M.

Stalker berkata dalam bukunya:
 
“Belum pernah di dunia ini sesuatu kegagalan begitu mutlak nampaknya seperti kegagalan Tuhan Yesus. Tubuhnya terkapar dalam kubur. Musuh-musuhnya sudah menang. Kematian mengakhiri segala pertentangan dan dari kedua yang bertentangan itu, kemenangan adalah pada pihak pemimpin-pemimpin Yahudi. Tuhan Yesus sudah tampak dan menyatakan diri sebagai Messias. Tetapi Ia bukanlah jenis Messias yang mereka idam-idamkan. Pengikut-pengikutnya sedikit saja jumlahnya dan tidakberpengaruh. Masa kerjanya singkat sekali. Sekarang Ia sudah mati dan tamatlah riwayatnya.”2

Alangkah ironisnya peristiwa itu. Betapa tidak, sang BAPAK di sorga seolah-olah tidak mengenal watak hakiki bangsa Israel “selalu berkhianat” terutama terhadap Utusan-utusan yang datang. Ah, lagi-lagi Tuhan Bapak itu telah lalai mempersiapkan keamanan menjelang Sang Putera datang ketengah domba-domba Israel. Ataukah ada unsur kesengajaan sang BAPAK membunuh PUTERANYA sendiri?
 
Cobalah lihat peristiwa yang menimpa diri Yesus ini. Bahkan pengikut-pengikutnya yang sedikit itupun mengingkari dia. SIMON PETRUS murid yang dicinta dan menyintai juga meninggalkannya. Bukan itu saja, ia banyak menyaksikan adegan-adegan hina atas Gurunya. Ia menyaksikan Gurunya dituntut di depan pengadilan, tapi ia diam saja. Ia menyaksikan pukulan-pukulan tinju menjatuhi tubuh Gurunya, ia diam saja. Saat Gurunya diludahi, ia diam saja. Ketika orang bertanya apakah ia kenal Yesus, ia menjawab: “Aku tidak kenal orang itu.” Sampai tiga kali orang bertanya padanya, Simon Petrus murid yang terdekat itu tetap menyangkal. Padahal ia pernah bersumpah di hadapan Gurunya:
 
“Biarpun hamba mati bersama-sama TUHAN tiada hamba akan menyangkali Tuhan.”3

Takutkah ia? Ataukah ia sehaluan dengan Judas Iskariot si pengkhianat?!! Cobalah lihat yang lain, seluruh lapisan masrakat, orang-orang Yahudi, orang tua ahli-ahli Taurat, seluruhnya ikut melibatkan diri mereka atas pembunuhan yang keji. Bahkan yang memilih vonis salib adalah mereka.4
 
Tatkala kematian di salib berakhir dengan jeritan putus harap: “Ya Tuhan! Ya Tuhan, mengapa Engkau tinggalkan Aku” (Eli Eli Lama Sabakhtani), sedangkan dari sang BAPAK di sorga tiada juga datang jawaban atas panggilan putera yang menyayat pilu, maka berakhirlah sudah kisah dramatis di lembah Golgotta. Sebaliknya dari kisah yang tamat, dimulailah awal persengketaan religius di kalangan theoloog-theoloog Kristen terhadap diri Yesus. Figur siapa “YESUS KRISTUS” menjadi pokok fundamentil dari kekacauan iman yang tak habis-habisnya.
 
Siapakah sebenarnya ia itu? Seorang manusia, Superman, Juru Selamat yang celaka, SEMI (setengah) GOD, ataukah ia PUTERA Tuhan atau TUHAN itu sendiri? Itulah soal-soal yang memusingkan akal, mengacaukan keyakinan kaum kristen. Missinya yang singkat dan gagal total, kematiannya yang hina di palang kayu, membuktikan secara nyata betapa mati gersang rohani bangsa Yahudi dan betapa sia-sia serta konyol setiap Utusan Tuhan yang datang pada mereka.
 
Adalah satu hal yang wajar bila sejarah Yesus berakhir pada kematiannya: Sebagaimana yang dikatakan James Stalker: “Sekarang ia sudah mati dan tamatlah riwayatnya.”
 
Akan tetapi pada kenyataannya tidak demikian; Sejarah Kristen mulai menampilkan lembaran-lembaran babak baru tentang Yesus. Justru dengan kisah “SESUDAH MATINYA” itulah, jalan baru telah terbuka lempang bagi kelangsungan iman kristiani. Kematian Yesus bukan penutup dari kegagalannya, demikian theolog-theolog Kristen berbicara. Dari kematian timbul masa cerah. Samuel Zwemer berkata:

“Syukur kepada Allah bahwa berita Injil tidak berakhir dengan kematian Kristus. Cerita itu tidak tammat dengan jeritan kemenangannya “sudah selesai.” Demikian juga amanat kerasulan. Kematian Kristus disusul oleh kebangkitannya.”5

Orang-orang yang menjadi saksi mata kisah kebangkitan dari maut tersebut, termasuk murid-muridnya yang ingkar, konon memperoleh kembali keyakinan mereka akan Tuhannya Yesus. Kebangkitan dari maut memancarkan cahaya baru, kata Samuel.6 Karenanya kegagalan missi beralih success, yang ingkar balik percaya, yang berdosa putih kembali, dan tammatnya kisah Kristus karena kematiannya menjadi berlanjut.
 
James Stalker berkata:
 
“Karena kebangkitannya dari maut maka kebangkitan itu sendiri adalah MUJIZAT terbesar, sehingga karenanya SELURUH KEHIDUPANNYA YANG AJAIB menjadi dapat dipercaya.”7

Rasul Paulus juga berkata:
 
“Jika Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah kepercayaanmu dan kamu masih hidup dalam dosamu.”8


Itulah makna kebangkitan. Sayangnya kebangkitan itu hanya berjalan 40 hari.
 
Pada hari ke-40 dari kematian Yesus maka tubuhnya yang dipermuliakan itupun kembalilah ke tempatnya yang sejati, di sebelah KANAN ALLAH BAPAK.9
 
Tidak semua kaum Yahudi yang mati rohani sempat menjadi saksi-saksi mata.

Konon kepercayaan hanya menjalar pada segelintir manusia yang melihat kisah kebangkitan itu.

Apakah yang melihat sanggup bertahan, padahal semenjak Yesus lenyap telah timbul kontroversi-kontroversi religius yang tak kunjung selesai. Bertahun-tahun awan gelap meliputi ummat Masehi. Opini-opini yang bertentangan mengenai siapa YESUS KRISTUS melanda kaum pendeta, kaum paderi, uskup-uskup dan Paus-paus. Mereka saling berbantah, saling mengucil, saling melaknat dan mengutuk. Masa gelap dan silang sengketa ini harus disudahi serta dicarikan obat penawar demi kelangsungan hidup agama itu sendiri.
 
Hal inilah yang menyebabkan kisah versi Perjanjian Baru masih berlanjut.
 
Sponsor link:

Selasa, 28 Juli 2015

Sahabat Nabi di Mata Ahlus Sunnah wal Jamaah Syekh Utsaimin

Bagian 15:

Syaikhul Islam kemudian berkata,

"Barangsiapa yang mengingkari salah satu dari empat khalifah ini, maka dia lebih
sesat daripada keledainya."

Penjelasan:
Yaitu mengingkari kekhalifahan (pemerintahan) salah satu
di antaranya dengan mengatakan, "Ia tidak berhak menjadi
khalifah," atau, "Dia lebih berhak daripada khalifah
sebelumnya," maka dia lebih sesat daripada keledai.
Wallahu a'lam.

Syaikhul Islam berkata,

"Ahlussunnah berlepas diri dari sikap Rafidhah yang membenci dan mencaci
para Sahabat."

Penjelasan:
Mereka dinamakan Rafidhah (berarti 'yang menolak') karena
menolak jawaban Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu
Thalib yang menjawab pertanyaan mereka tentang Abu
Bakar dan Umar, "Keduanya para pembantu/pendamping
kakekku (Rasulullah)."
Kelompok Rafidhah mengingkari dan membenci sahabat
dengan hati dan lidah mereka.
1. Dalam hati, mereka membenci sahabat Nabi, kecuali
sejumlah sahabat yang mereka jadikan sebagai perantara
untuk mendapatkan keinginan mereka dan bersikap
ghuluw (berlebih-lebihan) kepadanya, yaitu kepada Ahlu
bait.
2. Dengan lidah, mereka mencela dan melaknat para
sahabat. Mereka berkata, "Para sahabat telah berlaku
zalim dan murtad sesudah Nabi wafat, kecuali sedikit
saja dari mereka." Dan perkataan-perkataan lain yang

terdapat dalam kitab-kitab mereka yang terkenal.
Pada hakikatnya mencela para sahabat bukan terbatas
pencelaan kepada mereka saja, akan tetapi tertuju kepada
para sahabat, Nabi, syariat Allah, dan dzat Allah.
1. Dikatakan mencela para sahabat karena telah jelas dari
lontaran ungkapan-ungkapan Rafidhah.
2. Dikatakan celaan kepada Nabi karena mereka adalah
sahabat dan teman dekat beliau, serta pemimpin kaum
muslimin sesudah beliau. Di samping itu, karena berarti
mendustakan pemberitaan Nabi tentang keutamaan para
sahabatnya.
3. Dikatakan celaan kepada syariat karena mereka adalah
perantara sampainya syariat yang dibawa Nabi kepada
kita. Apabila hilang kepercayaan kita terhadap mereka,
maka nukilan syariat agama ini tidak ada yang benar.
4. Dikatakan celaan kepada Allah karena Allah-lah yang
mengutus Nabi-Nya kepada sebaik-baik umat. Allah-lah
yang telah memilih para Sahabat sebagai sahabat Nabi-
Nya serta pembawa syariat guna disampaikan kepada
umat.

Maka, lihatlah akibat penghinaan Rafidhah terhadap para
sahabat. Kita berlepas diri dari orang-orang yang mencela
dan membenci para sahabat, dan kita mencintai para
sahabat karena keimanan dan ketakwaan mereka, serta
pertolongan mereka kepada Nabi.
Syaikhul Islam berkata,

Sponsor link:


Sahabat Nabi di Mata Ahlus Sunnah wal Jamaah Syekh Utsaimin

Bagian 14:

Syaikhul Islam berkata,

"Masalah ini (yaitu masalah Utsman dan Ali) menurut jumhur Ahlussunnah
bukanlah termasuk masalah-masalah ushul (prinsip/pokok) yang dinilai sesat
orang yang menyelisihinya."

Penjelasan:
Masalah penentuan yang lebih utama antara Utsman dan
Ali bukan termasuk diantara prinsip-prinsip Ahlussunnah
yang penyelisihnya akan dinilai sesat. Jadi, jika ada orang
yang mengatakan bahwa Ali lebih utama daripada Utsman,
maka tidak boleh kita katakan bahwa orang tersebut sesat,
akan tetapi kita katakan bahwa itu adalah salah satu
pendapat dari pendapat-pendapat Ahlussunnah dan kita
tidak mengomentarinya sedikit pun.

Syaikhul Islam berkata,

Penjelasan:
Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk berkata, "Khalifah
sesudah Nabi adalah Abu Bakar, kemudian Umar,
kemudian Utsman, kemudian Ali." Barangsiapa yang
mengatakan bahwa khilafah (hak pemerintahan) adalah
milik Ali, bukan milik ketiga khalifah sebelumnya (Abu
Bakar, Umar, dan Utsman), maka dia sesat. Dan
barangsiapa yang mengatakan bahwa khilafah itu adalah
milik Ali setelah Abu Bakar dan Umar, maka dia telah sesat
karena telah menyelisihi ijmak sahabat (yang memilih
Utsman).

Sponsor link:


Sahabat Nabi di Mata Ahlus Sunnah wal Jamaah Syekh Utsaimin

Bagian 13:

Syaikhul Islam berkata,

Penjelasan:
Ini adalah ketetapan Ahlussunnah. Mereka berkata, "Orang
yang paling utama di antara umat ini setelah Nabi adalah:
Abu Bakar lalu Umar lalu Utsman lalu Ali menurut urutan-urutan
mereka menjadi khalifah. Dan inilah yang benar
sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh dalil-dalil di atas.

Sponsor link:


Sahabat Nabi di Mata Ahlus Sunnah wal Jamaah Syekh Utsaimin

Bagian 12:

Syaikhul Islam berkata,

"Sebagian Ahlussunnah ada yang berbeda pendapat dalam masalah Utsman
dan Ali -setelah mereka bersepakat mengutamakan Abu Bakar lalu Umar -,
siapakah dari keduanya yang afdhal (lebih utama) sesudah Abu Bakar dan
Umar? Satu kelompok dari mereka mendahulukan Utsman kemudian diam, atau
menyebutkan Ali sebagai yang keempat. Sedang kelompok lain lebih
mengutamakan Ali. Dan kelompok terakhir bersikap tawakkuf (tidak memilih)."

Penjelasan:
Kelompok pertama berkata, "Abu Bakar kemudian Umar
kemudian Utsman." Setelah itu mereka diam (tidak
menyebutkan yang keempat). Atau mereka berkata,
"Kemudian Ali."
Kelompok kedua berkata, "Abu Bakar kemudian Umar
kemudian Ali kemudian Utsman." Ini salah satu dari
pendapat-pendapat Ahlussunnah.
Kelompok terakhir berkata, "Abu Baka kemudian Umar."
Kemudian mereka bersikap tawakkuf dalam menentukan
siapa yang lebih utama antara Utsman dan Ali. Dan ini
berbeda dari pendapat kelompok pertama.
Jadi semuanya ada 4 pendapat, yaitu:
1. Pendapat yang masyhur: Abu Bakar lalu Umar lalu
Utsman lalu Ali.
2. Pendapat kedua: Abu Bakar lalu Umar lalu Utsman
lalu diam (tidak menyebut nama Ali).
3. Pendapat ketiga: Abu Bakar lalu Umar lalu Ali lalu
Utsman.
4. Pendapat keempat: Abu Bakar lalu Umar lalu
tawakkuf (tidak memilih) yang mana yang lebih
utama antara Utsman dan Ali. Mereka berkata, "Kami
tidak mengatakan bahwa Utsman yang lebih utama
atau Ali yang lebih utama, namun kami (juga) tidak
berpandangan ada orang yang lebih utama daripada
Utsman atau Ali setelah Abu Bakar dan Umar."

Sponsor link:


Senin, 27 Juli 2015

Sahabat Nabi di Mata Ahlus Sunnah wal Jamaah Syekh Utsaimin

Bagian 11:

Syaikhul Islam berkata,

"Ahlussunnah menempatkan Utsman di urutan ketiga dan Ali di urutan keempat,
sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh atsar dan sebagaimana kesepakatan
para sahabat yg mendahulukan membai'at Utsman (daripada Ali)."

Penjelasan:
Dari kesimpulan di atas, maka yang terbaik dari umat ini
(sesudah Nabi) adalah Abu Bakar kemudian Umar (dengan
kesepakatan) kemudian Utsman, dan terakhir Ali.
Kemudian Syaikhul Islam berdalil dengan 2 dalil tentang
urutan ini:
1. Dalil yang ditunjukkan oleh atsar. Sebagiannya telah
dijelaskan di atas.
2. Kesepakatan para sahabat yang lain yang
mendahulukan membai'at Utsman daripada Ali
(menjadi khalifah).
Maka cukuplah keutamaan Utsman daripada Ali dengan
dalil-dalil syar'i (nukilan) dan aqli (akal) berupa ijmak para
sahabat bahwa Utsman lebih dulu dalam masalah bai'at.
Ijmak para sahabat tersebut mengharuskan Utsman lebih
utama dari Ali karena suatu hikmah. Allah memilih yang
terbaik dalam satu generasi dan tidaklah Allah memberi
pemimpin kecuali orang yang paling baik dari mereka.

Sponsor link:


Sahabat Nabi di Mata Ahlus Sunnah wal Jamaah Syekh Utsaimin

Bagian 10:

Syaikhul Islam berkata,

"Ahlussunnah menetapkan penukilan yang mutawatir dari Amirul Mukminin Ali
bin Abi Thalib dan selainnya bahwa orang terbaik setelah Nabi adalah Abu Bakar
kemudian Umar."

Penjelasan:
Kabar mutawatir adalah kabar yang mengandung
keyakinan/ilmu yakin, yaitu kabar yang dinukil oleh
banyak orang yang tidak mungkin bersepakat dalam suatu
kebohongan.
Dan di dalam shahih al Bukhari dan selainnya dari
Abdullah bin Umar berkata, "Kami memilih orang-orang
(yang terbaik) pada zaman Nabi, maka kami memilih Abu
Bakar, Umar bin Khaththab, kemudian Utsman bin Affan."
Dan dalam shahih al Bukhari juga bahwa Muhammad bin
al-Hanafiyah berkata, "Aku berkata kepada bapakku (Ali),
'Siapakah orang terbaik setelah Nabi?' Beliau menjawab,
'Abu Bakar.' Kemudian aku berkata, 'Lalu siapa lagi?' Beliau
menjawab, 'Kemudian Umar.' Aku khawatir jika beliau
mengatakan Utsman, maka aku berkata, "Kemudian
engkau!" Tetapi beliau berkata, 'Tidaklah aku ini kecuali
hanya seorang laki-laki dari kaum muslimin.'"

Jika Ali saja berkata pada zaman kekhalifahan beliau
bahwa umat terbaik sesudah Nabi adalah Abu Bakar lalu
Umar, maka sungguh telah gugur hujjah kelompok
Rafidhah yang lebih mengutamakan Ali daripada Abu Bakar
dan Umar.
Perkataan Syaikhul Islam di atas "...dan selainnya" adalah
selain Ali bin Abu Thalib dari kalangan Sahabat dan Tabi'in.
Dan ini adalah kesepakatan para imam. Imam Malik
berkata, "Saya tidak mendapati seorang pun yang ragu
dalam mendahulukan keduanya." Imam Syafi'i berkata,
"Sahabat dan Tabi'in tidak berselisih dalam mengutamakan
Abu Bakar dan Umar."
Dengan demikian, barangsiapa yang keluar dari ijmak
(kesepakatan) di atas, maka sungguh dia telah keluar dari
jalan orang-orang yang beriman.

Sponsor link:


Sahabat Nabi di Mata Ahlus Sunnah wal Jamaah Syekh Utsaimin

Bagian 9:

Syaikhul Islam berkata,

"Ahlussunnah mempersaksikan terhadap orang-orang yang telah dipersaksikan
oleh Rasulullah sebagai penduduk surga, seperti kepada 10 orang sahabat,
Tsabit bin Qais bin Syammas, dan sahabat-sahabat lainnya."

Penjelasan:
Persaksian sebagai penduduk surga ada 2 bentuk:
1. Persaksian yang berkaitan dengan sifat tertentu.
2. Persaksian yang berkaitan dengan orang tertentu.
Adapun persaksian yang dikaitkan dengan sifat tertentu,
maka kita bersaksi bahwa setiap mukmin pasti masuk
surga, dan setiap orang yang bertaqwa pasti masuk surga,
tanpa menunjuk orang tertentu. Persaksian seperti ini
namanya persaksian umum. Wajib bagi kita untuk bersaksi
demikian karena Allah telah memberitakannya.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal-amal saleh, bagi mereka surga-surga yang penuh
kenikmatan. Mereka kekal di dalamnya; sebagai janji Allah
yang benar. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi
Mahabijaksana." (QS. Luqman: 8-9)

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari rabbmu dan
kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang
disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali
Imran: 133)
Adapun persaksian yang dikaitkan dengan orang tertentu,
maka caranya adalah dengan kita bersaksi bahwa si fulan
atau beberapa orang tertentu merupakan penghuni surga.
Persaksian seperti ini dinamakan persaksian khusus.
Kita memberikan persaksian kita terhadap orang-orang
yang telah dipersaksikan oleh Rasulullah, baik untuk
seseorang tertentu maupun beberapa orang tertentu, bahwa
mereka sebagai penduduk surga.
Contohnya sebagaimana yang telah disebutkan oleh
Syaikhul Islam dengan perkataan beliau "10 orang." Yang
beliau maksudkan adalah 10 orang sahabat yang diberi
kabar gembira oleh Rasulullah sebagai penduduk surga.
Mereka digelari dengan gelar seperti ini karena Nabi
menyebutkan mereka semua dalam satu hadits yang sama.
Mereka adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah bin
Ubaidah, az-Zubair bin al-Awwam, Abdurrahman bin Auf,
Sa'ad bin Abi Waqqas, Sa'id bin Zaid, dan Abu Ubaidah
Amir bin al-Jarrah.
Rasulullah bersabda, "Abu Bakar di surga, Umar di surga,
Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, az-Zubair di
surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa'ad di surga, Sa'id di
surga, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah di surga." (HR. Abu
Dawud [4649] dan Tirmidzi [3747])
Kita wajib menyatakan bahwa mereka masuk surga karena
Nabi telah menyatakan demikian. Adapun yang
dimaksudkan oleh Syaikhul Islam "Tsabit bin Qais bin
Syammas" adalah Tsabit bin Qais yang merupakan salah
satu juru khutbah Nabi yang memiliki suara yang sangat
keras.
(Dia sempat merasa sedih) tatkala Allah menurunkan
firman-Nya,

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah

kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana
kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian
yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu
sedangkan kamu tidak menyadari." (QS. al-Hujurat: 2)
Dia takut amalnya telah terhapus sedangkan dia tidak
menyadarinya. Akhirnya, dia bersembunyi saja di
rumahnya, tidak keluar. Sampai kemudian Nabi merasa
kehilangan dia. Beliau lantas mengutus seseorang untuk
menanyakan alasannya tidak keluar rumah. Dia menjawab,
"Karena Allah telah menurunkan firman-Nya (yaitu ayat di
atas) padahal akulah orang yang telah mengeraskan suara
melebihi suara Rasulullah. Tentulah telah terhapus amalku
dan aku menjadi penghuni neraka." Utusan tadi lalu
menyampaikan kepada Rasulullah apa yang telah dikatakan
Tsabit, kemudian beliau bersabda,
"Pergilah engkau kepadanya dan katakan, 'Engkau bukan
penghuni neraka, namun penghuni surga.'" (HR. Bukhari
[3414, 4565] dan Muslim [119])
Adapun perkataan Syaikhul Islam "Dan sahabat-sahabat
Nabi yang lain," seperti para istri Nabi-karena mereka
berada satu derajat di surga bersama Nabi -, Bilal, Abdullah
bin Salam, Ukasyah bin Mihshan, Sa'ad bin Mu'adz

Sponsor link:


Sahabat Nabi di Mata Ahlus Sunnah wal Jamaah Syekh Utsaimin

Bagian 8:

Syaikhul Islam berkata,

"Dan tidak akan masuk neraka seorang pun yang berbaiat 'di bawah pohon',
sebagaimana telah diberitakan oleh Nabi Bahkan Allah telah ridha kepada
mereka, dan mereka pun ridha kepada Allah. Jumlah mereka lebih dari 1.400
orang."

Penjelasan:
Orang-orang yang berbaiat di bawah pohon ini juga disebut
pelaku Baiat ar-Ridwan. Adapun sebab terjadinya baiat ini
adalah bahwa Nabi keluar dari Madinah menuju Mekah
untuk melaksanakan umrah bersama sahabatnya yang kala
itu berjumlah sekitar 1.400 orang. Tiada maksud mereka
saat itu selain berumrah.
Tatkala sampai di tempat bernama Hudaibiyah, orang-orang
musyrikin mengetahui kedatangan beliau dan para
sahabatnya, maka mereka melarang beliau dan para
sahabatnya masuk Mekkah karena menganggap merekalah
ahli dan penjaga Baitullah (Ka'bah). Padahal Allah
berfirman,

"...dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak
menguasainya? Orang-orang yang berhak menguasai(nya),
hanyalah orang-orang yang bertakwa." (QS. al-Anfal: 34)
Maka terjadilah perundingan antara rombongan Rasulullah
dan kaum musyrikin. Kemudian Allah memperlihatkan
salah satu tanda dari tanda-tanda-Nya dalam peristiwa ini
yang menunjukkan bahwa lebih baik Rasulullah mengalah
(dalam perundingan itu) karena hal itu akan berdampak
kebaikan dan kemaslahatan bagi mereka. Tanda itu adalah
unta beliau menderum dan enggan berjalan.
Lalu Rasulullah mengutus Utsman bin Affan untuk
mengajak penduduk Mekkah berislam dan memberitakan
kepada mereka bahwa Nabi datang semata-mata untuk
umrah sebagai bentuk pengagungan kepada Ka'bah. Namun
kemudian tersebar berita bahwa Utsman telah dibunuh,
dan hal itu dianggap masalah besar bagi kaum muslimin.
Maka Nabi mengajak para sahabatnya berbaiat untuk
memerangi penduduk Mekkah yang telah membunuh
utusan Rasulullah, karena seorang utusan tidak boleh
dibunuh. Maka para sahabat membaiat Nabi untuk
berperang dan tidak akan lari karena takut mati. Nabi
berada di bawah sebuah pohon ketika menerima baiat dari
para sahabatnya itu.
Akan tetapi, akhirnya menjadi terang bagi mereka bahwa
Utsman tidak dibunuh. Maka para utusan masing-masing
pihak datang dan pergi antara Rasulullah dan Quraisy
sampai akhirnya terjadi Perdamaian Hudaibiyah yang pada
akhirnya menjadi kemenangan yang nyata bagi Rasulullah.
Allah telah berfirman tentang mereka yang terlibat bai'at
tersebut,
"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang
mukmin ketika mereka berbaiat (janji setia) kepadamu di
bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam
hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka
dengan memberi balasan kepada mereka dengan
kemenangan yang dekat (waktunya). Serta harta rampasan
yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah
Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. al-Fath: 18-19)
Termasuk di antara mereka adalah Abu Bakar, Umar,
Utsman dan Ali.
Dalam ayat tersebut Allah melekatkan kepada mereka sifat
keimanan. Ini menunjukkan bahwa setiap orang dari
mereka telah dipersaksikan oleh Allah sebagai mukmin yang
diridhai. Di samping itu, Nabi juga telah bersabda tentang
mereka, "Tidak ada seorang pun yang telah berbaiat di
bawah pohon itu akan masuk neraka." (HR. Abu Dawud
[4653] dan Tirmidzi [3860])
Dengan demikian, berdasarkan al-Qur'an Allah ridha
kepada mereka dan berdasarkan as-Sunnah mereka tidak
akan masuk neraka.

Sponsor link:


Sahabat Nabi di Mata Ahlus Sunnah wal Jamaah Syekh Utsaimin

Bagian 7:

Syaikhul Islam berkata,

"Ahlussunnah mengimani bahwa Allah telah berfirman kepada Ahli Badar -yang
berjumlah 310-an orang-: 'Berbuatlah sesuka kalian, karena sungguh Aku telah
mengampuni kalian.'"

Penjelasan:
Ahli Badar, tingkatan mereka termasuk tingkatan tertinggi
dari tingkatan-tingkatan sahabat Rasulullah. Badar adalah
nama tempat yang terkenal. Di tempat ini, terjadi sebuah
perang yang terkenal pada bulan Ramadhan tahun kedua
setelah hijrah. Allah telah menamakan hari peperangan itu
dengan Yaum al-Furqan (hari yang membedakan antara
yang hak dengan yang bathil).

Ahli Badar adalah orang-orang yang melalui mereka Allah
memberikan kemenangan kepada kaum muslimin dalam
perang Badar. Dengan kemenangan itu, bangsa Arab
menjadi segan kepada Rasulullah dan para sahabatnya.
Jadilah mereka setelah itu memiliki kedudukan yang sangat
tinggi. Allah mengamati mereka seraya berfirman,
"Berbuatlah sekehendak kalian, karena sungguh aku telah
mengampuni kalian." Maka apapun dosa yang mereka
perbuat, dengan sebab kebajikan yang sangat besar ini -
yang telah Allah berikan kepada mereka- mereka menjadi
orang-orang yang terampuni.
Dalam hadits di atas, terkandung dua hal berikut:
1. Dalil yang menunjukkan bahwa sebesar apapun dosa
yang mereka perbuat, pasti mereka diampuni.
2. Kabar gembira bahwa mereka tidak akan mungkin mati
di atas kekafiran karena mereka telah diampuni. Hal ini
berimplikasi 2 hal:
- Bisa jadi mereka tidak akan kafir setelah itu sama
sekali.
- Atau seandainya ditakdirkan salah seorang di antara
mereka kafir, maka pasti dia akan mendapat taufiq
untuk bertaubat kembali kepada Islam.
Apapun keadaannya (dari 2 hal di atas), yang jelas ini
merupakan berita gembira yang sangat besar bagi mereka.
Dan ternyata tidak seorang pun dari mereka yang kita
ketahui sempat kafir setelah itu.

Sponsor link:


Sahabat Nabi di Mata Ahlus Sunnah wal Jamaah Syekh Utsaimin

Bagian 6:

Syaikhul Islam berkata,

"Ahlus Sunnah menganggap bahwa sahabat yang berinfak dan berperang (jihad)
sebelum peristiwa al-Fath -yaitu Perjanjian Hudaibiyah- lebih utama
dibandingkan sahabat yang berinfak dan berperang sesudah itu, dan
menganggap Muhajirin lebih utama dibandingkan dengan Anshar."

Penjelasan:
Dalil yang menunjukkan hal itu adalah firman Allah,

"Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan
(hartanya) dan berperang sebelum peristiwa al-Fath. Mereka
lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang
menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah peristiwa
itu." (QS. al-Hadid: 10)

Jadi, sahabat yang berinfak dan berperang sebelum
Perjanjian Hudaibiyah lebih utama dibandingkan dengan
sahabat yang berinfak dan berperang sesudah itu. Adapun
Perjanjian Hudaibiyah terjadi pada bulan Dzulqa'dah tahun
6 H. Dengan demikian, maka orang-orang yang masuk
Islam lalu berinfak dan berperang sebelum itu lebih utama
dibandingkan dengan yang sesudahnya. Seandainya ada
pertanyaan bagaimana cara kita mengetahuinya, maka
jawabannya adalah dengan melalui sejarah keislaman
mereka, misalnya dengan merujuk kepada kitab al-Ishabah
fi Tamyiz ash-Shahabah karya Ibnu Hajar atau kitab al-
Isti'ab fi Ma'rifat al-ash-hab karya Ibnu Abdil Bar atau kitabkitab
lain tentang para sahabat.

Syaikhul Islam menyatakan bahwa yang dimaksud dengan
peristiwa al-Fath adalah Perjanjian Hudaibiyah. Ini adalah
salah satu pendapat dari dua pendapat tentang maksud al-
Fath dalam ayat di atas. Dan pendapat ini benar adanya
dengan bukti kisah Khalid bin Walid dengan Abdurrahman
bin Auf di atas, begitu pula perkataan al-Barra' bin 'Azib,
"Kalian menganggap bahwa al-Fath itu adalah Fathu
Makkah, padahal Fathu Makkah adalah kemenangan,
sementara kami menganggap al-Fath itu adalah peristiwa
Bai'at ar-Ridwan pada Perjanjian Hudaibiyah." (HR. Bukhari
kitab al-Maghazi bab Gazwat al-Hudaibiyah no. 3919)
Namun, kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa yang
dimaksud al-Fath adalah Fathu Makkah.

Adapun perkataan Syaikhul Islam bahwa Ahlussunnah
menganggap Muhajirin lebih utama dibandingkan dengan
Anshar, maka yang dimaksudkan Muhajirin adalah mereka
yang hijrah ke Madinah pada masa Nabi sebelum Fathu
Makkah, sedangkan Anshar adalah mereka yang tinggal di
Madinah di mana Nabi hijrah kepada mereka.

Ahlussunnah menganggap Muhajirin lebih utama
dibandingkan dengan Anshar karena pada Muhajirin
terkumpul 2 perbuatan sekaligus, yaitu hijrah dan nusrah
(pertolongan), sementara Anshar hanya melakukan nusrah
saja.

Muhajirin telah meninggalkan harta, keluarga, dan negeri
mereka menuju negeri yang asing bagi mereka. Semua itu
mereka lakukan dalam rangka hijrah kepada Allah dan
rasul-Nya dan sebagai pertolongan kepada Allah dan rasul-
Nya. Sementara Anshar, mereka menolong Nabi yang datang
ke negeri mereka. Mereka membela beliau sebagaimana
mereka membela anak dan istri mereka.
Dalil yang menunjukkan keutamaan Muhajirin
dibandingkan dengan Anshar adalah firman-firman Allah
dalam al-Qur'an yang mendahulukan penyebutan Muhajirin
sebelum Anshar, seperti dalam ayat 100 dan 107 surat at-
Taubah, serta ayat 8 dan 9 surat al-Hasyr.

Sponsor link:


Sahabat Nabi di Mata Ahlus Sunnah wal Jamaah Syekh Utsaimin

Bagian 5:

Apabila seseorang mencela mereka secara umum, maka dia
telah kafir, bahkan mereka yang ragu tentang kekafiran
orang ini pun telah kafir. Adapun apabila dia mencela
secara khusus (salah seorang dari mereka), maka dilihat
sebab yang mendorongnya melakukan perbuatan itu. Hal
ini mengingat orang yang mencela sahabat secara khusus
adakalanya mencelanya karena bentuk tubuh, akhlaq, atau
agama sahabat yang bersangkutan. Masing-masing sebab
pencelaan tersebut memiliki hukumnya sendiri-sendiri.

Syaikhul Islam berkata:

"Ahlussunnah wal Jamaah menerima berita yang datang dari al-Qur'an, as-
Sunah, dan Ijma' tentang keutamaan-keutamaan dan tingkatan-tingkatan para
shahabat."

Penjelasan:
Ahlussunnah wal Jamaah menerima berita tentang
keutamaan dan tingkatan mereka, seperti:
1. Berita tentang banyaknya shalat, sedekah, puasa, haji,
jihad, atau keutamaan-keutamaan mereka yang lain.
2. Berita bahwa Abu Bakar adalah satu-satunya sahabat
Nabi yang bersama beliau dalam gua tatkala dalam
perjalanan hijrah ke Madinah.
3. Demikian pula berita tentang Umar, Utsman, dan Ali
serta selain mereka.
4. Demikian juga Ahlussunnah menerima adanya
perbedaan tingkatan di antara sahabat. Ahlussunnah
menyatakan bahwa Khulafa Rasyidin adalah yang paling
tinggi tingkatannya pada umat ini. Dan yang paling tinggi
tingkatannya di antara Khulafa Rasyidin adalah Abu
Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, dan
kemudian Ali sebagaimana yang akan disebutkan oleh
Syaikhul Islam.

Sponsor link:


Sahabat Nabi di Mata Ahlus Sunnah wal Jamaah Syekh Utsaimin

Bagian 4:

Syaikhul Islam berkata:

Dan juga (termasuk di antara prinsip-prinsip dasar Ahlussunnah adalah) mentaati
sabda Nabi, "Janganlah kalian mencela para sahabatku. Demi Zat yang jiwaku
ada di tangan-Nya, kalau salah seorang dari kalian menginfakkan emas semisal
gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai satu mud (infak) salah seorang dari
mereka, dan tidak pula setengahnya.'" (HR. Bukhari [3470], Muslim [2541],
Tirmidzi [3861] -dan ini lafalnya-)

Penjelasan:
Maksud perkataan Nabi 'para sahabatku' adalah orangorang
yang bersahabat dengan beliau. Tidak diragukan lagi
bahwa persahabatan para sahabat dengan Nabi shallallahu
'alaihi wasallam itu berbeda-beda keutamaannya, ada yang
telah terjalin jauh sebelum peristiwa Fathu Makkah, dan
ada pula yang belakangan sesudah Fathu Makkah.
Nabi mengucapkan sabdanya di atas kepada Khalid bin
Walid tatkala terjadi perselisihan antara dia dengan
Abdurrahman bin Auf tentang Bani Judzaimah. Tidak
diragukan bahwa Abdurrahman bin Auf dan sahabat lain
yang setingkat dengannya lebih utama daripada Khalid bin
Walid jika ditinjau dari sisi lebih dahulunya Abdurrahman
bin Auf dan yang setingkat dengannya memeluk Islam. Oleh
karena itu, Nabi bersabda, "Jangan kalian mencela sahabatsahabatku."
Ini beliau tujukan kepada Khalid bin Walid dan
sahabat yang setingkat dengannya.

Tentunya sabda Rasulullah tersebut berlaku bagi siapa saja
sesuai dengan keumuman lafalnya. Jika kepada Khalid bin
Walid dan yang setingkat dengannya saja Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda demikian, maka
tentunya akan lebih utama lagi kepada orang-orang yang
datang sesudah mereka.

Adapun sabda Nabi, "Demi Allah Yang jiwaku berada di
tangan-Nya, kalau salah seorang dari kalian menginfakkan
emas semisal gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai
satu mud (infak) salah seorang dari mereka, dan tidak pula
setengahnya."
Dari sabda beliau ini, dipahami bahwa seandainya di antara
kita ada yang menginfakkan emas sebesar gunung Uhud
(padahal gunung Uhud adalah gunung yang sangat besar),
maka tidak akan bisa menyamai infak para sahabat walau
hanya satu mud, bahkan setengahnya.

Padahal jenis amalnya sama (yaitu infak), yang diinfakkan
juga sama, dan yang berinfak juga sama-sama manusia,
namun hanya karena perbedaan (derajat) manusia yang
satu dengan manusia yang lain itulah yang menjadikan
berbedanya pahala infak yang diterima. Dalam hal ini,
mereka adalah sahabat Nabi yang memiliki banyak
keutamaan dan keistimewaan, serta sikap ikhlas dan ittiba,
yang kadarnya tidak bisa diraih oleh selain mereka.
Larangan Rasulullah di atas menunjukkan bahwasanya
mencela sahabat, baik secara umum maupun khusus
(individu dari mereka), adalah haram hukumnya.

Sponsor link:


Syari’at Membimbing Anda dalam Menggunakan Jawwal/Handphone

Bagian 1:

Pengantar : Pada zaman modern ini telah banyak teknologi yang memudahkan aktivitas manusia.
Termasuk dengan tersebarnya Jawwal/Handphone (HP), komunikasi bisa dijalankan dengan sangat
mudah dan cepat. Seorang yang berada di ujung dunia bisa menghubungi orang lain yang ada di
belahan dunia lain dengan sangat mudah dan kapan saja ia mau. Kejadian yang terjadi di suatu
daerah, bisa diinformasikan dengan cepat ke benua lainnya saat itu juga.

Tidak diragukan, keberadaan Jawwal/HP merupakan salah satu di antara sekian banyak nikmat
Allah. Maka agar nikmat tersebut bisa tetap terjaga dan benar-benar menjadi karunia bagi kita perlu
kita mensyukuri nikmat tersebut. Di antara bentuk syukur adalah menggunakan nikmat tersebut
pada tempatnya dan menjadikannya sebagai sarana yang bisa membantu untuk kita menjalankan
ketaatan kepada Allah.

Banyak terjadi, terkait dengan penggunaan Jawwal/HP ini yang sebenarnya itu bertentangan dengan
nilai-nilai syukur. Yaitu tatkala teknologi seluler yang memberikan banyak kemudahan ini ternyata
digunakan tidak pada tempatnya dan bahkan dijadikan sebagai sarana baru untuk berbuat maksiat.
Maka perlu kiranya kita menengok bagaimana bimbingan Syari’at Islamiyyah dalam memberikan
rambu-rambu untuk bersikap dan berakhlaq, serta mana hal-hal yang boleh dan mana yang dilarang
oleh syari’at, untuk kemudian seorang muslim menerapkannya dalam penggunaan teknologi seluler
tersebut.

* * *
Ini adalah risalah yang ditulis oleh Al-Akh Abu Ibrahim ‘Abdullah bin Ahmad bin Muqbil
hafizhahullah, dengan mendapat taqrizh (pujian) dari Asy-Syaikh Al-’Allamah Muhammad bin
‘Abdil Wahhab Al-Wushabi Al-‘Abdali hafizhahullah.
Risalah ini berisi tentang pembahasan 24 pedoman dan bimbingan syar’i dalam menggunakan
Jawwal/ (HP). Saya mencukupkan untuk langsung menyebutkan pedoman-pedoman tersebut saja
tanpa menyebutkan pujian Asy-Syaikh Al-Wushabi dan muqaddimah penulis.
Kami memulai dengan memuji Allah.

Sponsor link:


Sahabat Nabi di Mata Ahlus Sunnah wal Jamaah Syekh Utsaimin

Bagian 3:

Syaikhul Islam berkata tentang sifat para sahabat:

Allah telah menyebutkan sifat mereka di dalam firman-Nya,

"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), berdoa,
'Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah
beriman lebih dahulu daripada kami, dan janganlah Engkau membiarkan
kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan
kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.'" (QS. al-
Hasyr: 10)

Penjelasan:
Ayat di atas datang setelah 2 ayat sebelumnya (yang
menjelaskan sifat Muhajirin dan Anshar).
Pertama, firman Allah (tentang sahabat Muhajirin):

"(Juga) bagi para fuqara Muhajirin (yang berhijrah) yang
diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka
(karena) mencari karunia dan keridhaan dari Allah, dan
mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orangorang
yang benar." (QS. al-Hasyr: 8)
Tokoh Muhajirin adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali
bin Abu Thalib.
Dalam ayat ini, kalimat 'mereka mencari karunia dan
keridhaan dari Allah' menunjukkan keikhlasan niat mereka,
sedang kalimat 'dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya'
menunjukkan pengejawantahan amal mereka. Adapun
kalimat 'mereka itulah orang-orang yang benar' artinya
mereka melakukan demikian itu bukan karena riya' dan
sum'ah, akan tetapi karena kelurusan dan kejujuran niat
mereka.
Kedua, firman Allah tentang sahabat Anshar,

"Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan
telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka
(Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada
mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati
mereka terhadap apa-apa yang mereka berikan kepada
orang-orang Muhajirin; dan mereka lebih mengutamakan
(orang-orang Muhajirin) daripada diri mereka sendiri,
sekalipun sebenarnya mereka memerlukan (apa yang mereka
berikan itu)." (QS. al-Hasyr: 9)
Dalam ayat ini, Allah mensifati sahabat Anshar dengan 3
sifat:
1. Mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada
mereka (yaitu, sahabat Muhajirin).
2. Mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka
terhadap apa-apa yang mereka berikan kepada sahabat
Muhajirin.
3. Mereka lebih mengutamakan (sahabat Muhajirin)
daripada diri mereka sendiri, sekalipun sebenarnya
mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).
Setelah itu, Allah berfirman,
"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin
dan Anshar) berdoa, 'Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami
dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu
daripada kami.'" (QS. al-Hasyr: 10)
Orang-orang itu adalah para Tabi'in -yang mengikuti para
sahabat dengan penuh kebaikan- dan para pengikut mereka
sampai hari kiamat. Mereka memuji para sahabat dengan
menyebut mereka sebagai saudara dan mengakui bahwa
mereka telah lebih dahulu beriman, dan memohon kepada
Allah agar tidak menumbuhkan rasa dengki dalam hati
mereka terhadap para sahabat.
Maka barangsiapa yang menyelisihi para sahabat, mencela
mereka, dan tidak mengakui hak-hak mereka atas dirinya,
maka sungguh dia bukanlah termasuk golongan orangorang
yang difirmankan oleh Allah dalam ayat di atas.

Sponsor link:


Sahabat Nabi di Mata Ahlus Sunnah wal Jamaah Syekh Utsaimin

Sikap Ahlussunnah yang demikian itu dilatarbelakangi oleh
perkara-perkara yang berikut:
1. Para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
adalah generasi terbaik dari seluruh umat, sebagaimana
telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam dengan sabdanya, "Sebaik-baik kurun (generasi)
adalah kurunku (Sahabat) kemudian yang sesudahnya
(Tabi'in) kemudian yang sesudahnya (Tabi'ut Tabi'in)." (HR.
Bukhari [2509], Muslim [2533], dan Tirmidzi [3859])
2. Para sahabat adalah penyambung Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam dengan umatnya karena umat ini
menerima syariat dari mereka yang telah menerimanya
langsung dari Rasulullah.
3. Kemenangan dan perluasan wilayah kaum muslimin yang
besar adalah karena keberhasilan para sahabat.

4. Para sahabat telah menyebarkan di tengah-tengah umat
ini berbagai macam keutamaan seperti kejujuran,
nasihat, akhlaq, adab-adab yang itu semuanya tidak
didapati pada selain mereka.

Sponsor link:


Sahabat Nabi di Mata Ahlus Sunnah wal Jamaah

Bagian 1:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (selanjutnya disingkat
Syaikhul Islam) berkata,

"Di antara prinsip-prinsip dasar Ahlussunnah wal Jamaah adalah
kebersihan hati dan lisan mereka terhadap para sahabat Nabi."

Penjelasan:
Yang dimaksud dengan kebersihan hati dan lisan
Ahlussunnah wal Jamaah terhadap para sahabat
Rasulullah adalah kebersihan hati mereka dari perasaan
benci, iri, dengki, dongkol, dan tidak suka. Begitu pula,
kebersihan lisan mereka dari segala ucapan yang tidak
pantas ditujukan kepada para sahabat.
Hati Ahlussunnah penuh dengan rasa cinta, penghormatan,
dan pengagungan para sahabat Rasulullah sesuai yang
menjadi hak mereka. Dengan demikian, Ahlussunnah
mencintai dan mengutamakan para sahabat melebihi
seluruh manusia karena mencintai mereka adalah wujud
dari rasa cinta kepada Rasulullah, dan cinta kepada
Rasulullah merupakan wujud rasa cinta kepada Allah.

Begitu juga halnya dengan lisan mereka, bersih dari
cercaan, cacian, kutukan, tafsik, takfir, dan perilakuperilaku
sejenis yang biasa dilakukan oleh ahlu bid'ah.
Lisan mereka justru penuh dengan pujian, pernyataan
keridhaan, doa rahmat, doa ampunan, dan lain-lain untuk
para sahabat.

Sponsor link: