Peristiwa yang menghebohkan telah terjadi akibat
pidato KH Noer Muhammad Iskandar SQ, pendukung utama Gus Dur/ Presiden
Abdurrahman Wahid yang bisa dimaknakan sebagai menghalakan darah Amien Rais,
Akbar Tanjung dan konco-konconya. Ucapan KH Noer Muhammad Iskandar bisa menjadi
berita heboh, karena memang menyangkut nyawa tokoh sesama Islam. Betapa tidak.
Pidato Noer Iskandar itu sampai melontarkan perkataan:
“Lho, kalau Anda mati lawan Samandiyah-Samandiyah
(maksudnya memlesetkan Muhammadiyah jadi Samandiyah, pen) itu, Anda mati lawan
Amien Rais dan Konco-konconya, Anda mati lawan Akbar Tanjung dan konco-konconya,
Anda masih mendapat kredit point, masuk surga karena Anda membela ulama,” kata
Noer Iskandar dalam pidato pada acara yang disebut halal bi halal (acara
ini di Islam tidak ada sumbernya, pen) di Desa Karang Tanjung, Kebumen, 12
Januari 2001, di hadapan warga NU.
Untuk lebih lengkapnya di sini dikutip sebagian isi
ceramah Noer Iskandar SQ itu, sebagaimana dimuat di Majalah Media Dakwah
terbitan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di Jakarta, sebagai
berikut:
“...Wis (sudah) tidak usah khawatir di dunia ini
(sambil membaca ayat Al-Qur’an كم من فئة قليلة
غلبت فئة كثيرة بإذن الله ).
Tidak selalu yang besar menang
dari yang kecil, banyak yang kecil yang menang dari yang besar. Yang lemah
menang dari yang besar, mengapa? Yang lemah mendapatkan pertolongan Allah SWT.
Dan itu dipidatokan oleh Gus Dur di Sidang Tahunan MPR: “Saya saking cinta saya
sama keadilan, sampai saya mewiridkan surat An-Nisaa’ ayat 135 delapan belas
kali sehari semalam,” kata Gus Dur.
Baru sekarang ada Presiden laporan akhir tahun,
laporan wiridan. Kalau enggak, Gus Dur, nggak ada itu.... Anehnya
itu semua aggota MPR iya- iya saja digoblokin.
Apa yang terjadi saudara dengan wiridan itu?
Ternyata, in the last minute, menit-menit terakhir, ketika kepala Komisi
A, B, C, akan memutuskan ditolaknya laporan Gus Dur, Sidang Tahunan menjadi
Sidang Istimewa, yang berarti Gus Dur berhenti dari presiden satu tahun,
tiba-tiba semua pimpinan komisi semua ketakutan. Semua pikirannya sama. Kalau
laporan ini kita tolak, Sidang Tahunan menjadi Sidang Istimewa, Gus Dur
berhenti jadi presiden, orang NU Kebumen ngamuk, semua kita (DPR-MPR)
ditelanjangi terus kaya’ (seperti) apa.
Itu terjadi saudara-saudara, strategi Allah, makanya
betul apa yang difirmankan Allah.... Kalau rekayasa Allah datang, rekayasa
manapun tidak akan ada yang mampu menandinginya. Amien... Ya Robbal ‘aalamien.
Apalagi Gus Dur ini ulama, Gus Dur ini pertaruhan ulama. Bukan persoalan Gus
Dur-nya, Gus Dur jatuh pertanda ulama jatuh. Karena itu apapun yang terjadi,
kita tetap membela Gus Dur dalam rangka membela ulama di Republik Indonesia ini.
Lho, kalau Anda mati lawan Samandiyah-Samandiyah itu, Anda mati lawan Amien Rais
dan konco-konconya, Anda mati lawan Akbar Tanjung dan konco-konconya, Anda mati
mendapat kredit point masuk surga, karena Anda membela ulama.
Tapi Golkar membela korupsi, neraka
Golkar ha... eue (ungkapan spontan dan kaset terputus dan terganggu)...
(mengutip ayat Al-Qur’an). Ini artinya apa, Nabi seolah-olah, menyatakan
memproklamirkan seolah-olah yang aku wariskan di dunia ini kepada para ulama,
hanya satu al akhlak al karimah. Nopo si (apakah ada) akhlak nganti
(sampai) nipu, masya Allah, Nabi ditipu. Saking saene (karena baiknya),
jangankan terhadap orang yang berbuat baik, enten tiang sing pualing (ada
orang yang paling) benci dumateng (kepada) Nabi, golongan Kafir Arab
Qurais, disingkat Gokkarqur. Sangking bencine (karena bencinya) kepada Nabi,
Kalau Nabi lewat di depan rumah sahabat Nabi, “diidoni raine” (diludahi
mukanya) cuh, cuh, sesekali ludahnya bau jengkol.
Nabi marah ? enggak! Malah suatu ketika yang
biasa ngeludahin (meludahi) tidak nampak di tempat itu, justru Nabi
tungguin (tunggui), sampai ada sahabat lewat bertanya, “Ya Muhammad,
nungguin (menunggui) siapa?”
Nabi menjawab, “Nungguin (menunggui)
langganan”.
“Langganan apa?”
“Langganan ludah. Tiap pagi, Fulan bin Fulan
itu”,
“Itu kan tokoh preman di kampung ini Pak, sekarang
sedang sakit keras dia. Semua orang kampung di sini berdo’a, supaya mampus dia,
Pak. Do’ain (do’akan) supaya dia cepat mati, lengkap kalau
mati”.
Nabi mendengar orang yang suka ngeludahin
sakit keras, sakit, tidak jadi pergi. Balik dia, perintahkan isterinya,
“Tolong deh bungkuskan semua kue yang ada”, (kemudian) ditenteng sendiri
oleh Nabi.
Diketuk pintunya, tuk...tuk...tuk, “Masuk”. Di dalam
yang punya rumah menggigil, buka pintunya sama Nabi pelan-pelan. Begitu terbuka
matanya terkejut, “Ya, Muhammad, engkau datang ke tempat ini, pasti engkau akan
menggunakan kesempatan, kau akan balas aku, ya Muhammad.”
Dicium sama Nabi keningnya dan berkata: “Engkau
jangan salah sangka, sedikitpun tidak ada dalam hatiku, justeru aku datang untuk
mendo’akan kau supaya cepat sembuh, supaya sempat meludahin saya lagi”.
“Kok begitu, ya Muhammad?”
“Iya, karena setiap ludah yang menempel di mukaku,
Allah akan ampunkan dosaku. Sejumlah ludah yang menempel di ludahku (di mukaku?,
pen) Allah akan angkat derajatku.”
Marahkah Gus Dur dihujat dan difitnah macam-macam?
Tidak, tidak marah.
Ada seorang Kyai sepuh (tua) dari Jawa Tengah ini,
malahan datang ke sana (Jakarta), saya menjadi saksi, kepergok. Gus, tidak
terima saya rasanya kaya’ (seperti) begini, bukan kau, tapi ulama sakit.
Wis aku mujahadah (bersungguh-sungguh usaha secara lahir dan batin), asal
sampean (Anda) ... tak wacakne Allah karo ping telu (saya bacakan Allah dengan
tiga kali). Akbar Tanjung, Amien Rais, Fuad Bawazier, lengah... (tidak jelas
suaranya).
Masya Allah. Saya bilang, persilahkan tuan-tuan,
antek-antek Akbar Tanjung dan antek-antek Amien Rais, hujat terus dan fitnah
terus, semakin dihujat semakin tinggi derajat Gus Dur, kalaupun malah jadi
presiden yang kedua kalinya. Amien ya Robbal ‘alamien... (tidak jelas
kasetnya)...
Hai orang Karang Tanjung semuanya, ketika nanti
penghuni neraka jahannam itu dibakar oleh Malaikat Malik, yang dibakar bukan
kaki dan tangannya, jidatnya duluan. Dibakar di wajan. Ingkang asmane
(yang namanya) jahannam...terik, menjerit, mengaduh mereka, adu, adu, du, duh,
kembalikan kembali kami di Karang Tanjung. Ya Allah supaya kami bisa memperbaiki
dan bisa taat kepadaMu. Dijawab sama Malaikat, “Sudah digusur, monyong, brengsek
lhu, ngomong saja, masuk ke neraka sana.... dalam sebuah tafsir: Ya Allah, kami
patuh kepada ulama dan umara’ kami, tapi sayang ulama dan umara’ kami tidak mau
tahu tentang pendidikan agama, tidak mau tahu tentang da’wah. Jadi sebenarnya
Pak Camat, Pak Wedono, Pak Kiyai bukan tugas yang utama, tidak hanya ngurusin
KTP, tidak hanya ngurusin wisik rakyat, tapi juga ngurusin akhlak dan
jiwa.....”
Majalah Media Dakwah pada akhir tulisannya memberi
komentar: “Ceramah Noer Iskandar ini tak lebih justru berisi hujatan-hujatan
keji. Na’udzubillahi min dzaalik.”
Demikianlah kutipan dari ceramah Noer Muhammad Iskandar
yang dimuat Majalah Media Dakwah dengan judul Noer Iskandar SQ dan Kiyai
Penganjur Kemusyrikan.
Menyimak pidato Noer Iskandar SQ itu, secara
keseluruhan bisa diambil beberapa butir arah pembicaraan:
1.
Menganggap tindakan Gus Dur benar
bahkan hebat.
2.
Menganggap DPR-MPR bisa digoblokin
oleh Gus Dur
3.
Menganggap DPR dan MPR takut dengan
amukan orang NU walaupun hanya NU Karang Tanjung Kebumen.
4.
Menganggap amalan Gus Dur mencintai
keadilan cukup dengan mewiridkan ayat tentang keadilan, itu benar (menurut
Islam).
5.
Menganggap Gus Dur itu wajib dibela,
karena wakil ulama, siapa membelanya dan mati maka dapat kredit point masuk
surga.
6.
Menganggap Amien Rais dan Akbar
Tanjung beserta konco-konconya itu mesti dilawan, dan melawannya itu (secara
tersirat) sama dengan melawan orang kafir, maka matinya masuk surga. Ini bisa
diartikan, KH Noer Muhammad Iskandar SQ itu memprovokasi untuk melawan bahkan
membunuh Amien Rais dan Akbar Tanjung serta teman-temannya. Provokasi untuk
membunuh itu bisa difahami dari kata-kata Noer Iskandar: “Anda mati lawan
Amien Rais dan konco-konconya....” Padahal, Amien Rais dan konco-konconya
itu bukan orang kafir. Orang kafir pun tidak boleh dibunuh, kecuali memang kafir
harbi (yang memusuhi Islam) atau karena hukum lain, misalnya karena dia
membunuh. Sedangkan dalam Al-Qur’an ditegaskan:
ومن
يقتل مؤمنا
عذابا
عظيما. (النساء: 93).
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang
mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam, kekal ia di dalamnya,
Allah murka kepadanya, mengutuknya serta menyediakan azab yang besar
baginya.” (QS an-Nisa’/ 4:
93).
Al-Qur’an menegaskan, membunuh orang mukmin dengan
sengaja maka balasannya masuk neraka jahannam, kekal di dalamnya. Namun Kiyai
Noer Iskandar justru menjanjikan surga. Yang punya surga yaitu Allah SWT saja
mengancam dengan balasan neraka, malah yang tidak punya surga menjanjikan surga.
Betapa beraninya orang NU ini.
Di samping itu, kalau cara membunuhnya itu
ramai-ramai seperti yang diprovokasikan itu, maka ada ancaman pula dari
Rasulullah saw:
لو أن أهل السماء وأهل الأرض اشتركوا في دم مؤمن لكبهم الله في النار.
(رواه الترمذي عن أبي هريرة).
“Seandainya penduduk langit dan bumi
bersekutu dalam (menumpahkan) darah seorang mukmin, maka pasti Allah akan
menelungkupkan mereka ke dalam neraka.”
(HR At-Tirmidzi dari Abu Hurairah).
Di samping akan mendapatkan siksa di neraka, masih pula
persekongkolan pembunuhan itu harus dihukum bunuh secara massal.
أن عمر
رضي الله عنه قتل سبعة في غلام قتل بصنعاء وقال: لو تمالأ عليه أهل الصنعاء
لقتلتهم.
“Bahwa sesungguhnya Umar ra pernah membunuh tujuh
orang karena seorang anak yang dibunuh di Shan’a dan ia (Umar) berkata: Kalau
penduduk Shan’a saling membantu dalam kasus pembunuhan ini tentu mereka kubunuh
semuanya.”
Ibnu Katsir berkata: Tidak diketahui ada orang yang
menentang putusan Umar tersebut, di masanya, dan yang demikian itu (menjadi)
semacam ijma’ (Sahabat).
Apa yang terjadi di Indonesia? Justru penguasa,
Presiden Gus Dur/ Abdurrahman Wahid berbalikan dengan Umar bin Khatthab itu,
malahan Gus Dur bersekongkol dengan provokator KH Noer Muhammad Iskandar SQ yang
menghalalkan darah Amien Rais dan lainnya itu. Tidak terdengar adanya ungkapan
Gus Dur yang menyesalkan provokasi Nur Iskandar sama sekali. Maka Gus Dur pun
sebenarnya terkena ucapan Umar bin Khatthab itu.
7.
Menganggap Gus Dur dan pendukungnya
(tentunya NU-PKB) itu ibarat Nabi dan para sahabatnya. Sedang lawannya itu
adalah kafir Quraisy, maka melawannya akan mendapatkan kredit point masuk
surga.
8.
Membuat-buat cerita tentang Riwayat
Nabi saw yang tampak konyolnya, karena orang yang diceritakan sering meludahi
Nabi saw ludahnya bau jengkol. Padahal, di Arab tidak ada jengkol, atau jengkol
itu bukan makanan kesukaan di sana sama sekali.
Seluruh pidato itu intinya adalah mengkultuskan Gus
Dur, sambil memperalat Islam dengan diplintir-plintir semaunya.
Seandainya Kiyai yang pernah heboh karena skandalnya
dengan seorang janda ini sekadar mengkultuskan Gus Dur belaka, maka dosanya
hanyalah satu, tentang pengkultusan itu. Dan itu sudah cukup sangat besar. Namun
bukan hanya itu. Masih pula ia mengqiyaskan, hingga tergambarkan bahwa Gus Dur
itu kesabarannya bagaikan kesabaran Nabi saw tidak pernah marah. Maka siapa yang
membelanya, diposisikan sebagai membela Nabi atau ulama sehingga masuk surga.
Dan lawannya dianggap bagaikan golongan kafir Quraisy yang tempatnya di neraka.
Ini sangkutannya banyak sekali. Ya pengkultusan, ya pemlintiran Islam, ya
permusuhan terjhadap lawan politik dengan mengibaratkannya sebagai posisi orang
kafir.
Semuanya itu masih ditambahi dengan legitimasi
pengamalan Islam cara Gus Dur yang ia puji-puji. Hingga tak pernah ada kalau
presidennya bukan Gus Dur. Laporan tahunan tapi laporannya tentang wiridan. Dari
segi penerapan saja, laporan wiridan disampaikan kepada sidang tahunan MPR
(kalau wiridannya itu sendiri benar secara Islam, misalnya) itupun tidak ada
kebaikannya. Kata pepatah Arab, tidak ada kebaikannya, meletakkan kebaikan tidak
pada tempatnya. Itupun kalau wiridannya baik dan benar menurut Islam. Mengenai
wiridannya itu sendiri, ada persoalan serius. Dengan mengumumkan cintanya kepada
keadilan lalu mewiridkan ayat tentang keadilan tiap hari, itu dari mana
tuntunannya?
Kalau saking cintanya kepada keadilan, lalu Gus Dur menekuni
pencarian di mana saja adanya ketidakadilan lalu dicari jalan keluarnya agar
jadi adil, itu baru namanya cinta keadilan benar-benar. Sehingga, yang pantas
dibanggakan oleh Noer Iskandar, mestinya dalam bentuk begini: Gus Dur saking
cintanya kepada keadilan, maka dia berkeliling ke panti-panti asuhan Muslim yang
anak-anaknya kini makin kurus, terlantar, kurang terurus karena kurang dana,
akibat dana tiap bulan yang dulunya sebelum Gus Dur memerintah selalu diperoleh
dana itu, tetapi karena Depsos( Departemen Sosialnya) dibubarkan Gus Dur,
kemudian dana itu tidak pernah ada lagi, maka panti-panti asuhan Muslim sekarang
kelabakan kekurangan dana. Sementara itu panti-panti orang orang palangis dan
salibis tetap mendapatkan dana dari mana-mana yang hubungannya dengan
kristenisasi internasional, Indonesia diincar sebagai negara terbesar penduduk
Islamnya.
Maka, (misalnya sampai) Gus Dur keliling ke panti-panti asuhan Muslim
sebagai ganti dosa-dosa yang telah dibuatnya yang mengakibatkan macetnya dana
itu lalu mengucurkan dana dengan lebih besar dan lebih stabil, itulah yang bisa
dibanggakan Kiyai Noer Iskandar. Seharusnya itu yang bisa dibanggakan. Tetapi,
karena memang hal itu sama sekali tidak dilakukan, dan yang dilakukan –katanya
adalah wiridan ayat tentang keadilan, maka ini sama dengan membuat syari’at atau
mengumumkan sunnah baru, yaitu orang yang cinta keadilan cukup mewiridkan ayat
tentang keadilan. Ini bisa dimaknakan, orang yang cinta anak yatim dan faqir
miskin, bukannya menyantuni mereka, tetapi cukup mewiridkan ayat tentang anak
yatim, faqir, dan miskin. Pemujian terhadap tingkah Gus Dur yang sebenarnya
serba salah itu bukan sekadar salah biasa, namun sama dengan melegitimasi/
mengesahkan penyelewengan dan pemlintiran Islam.
Antara kiyai yang didukung dan yang mendukung dalam
kasus ini memang sama-sama mempermainakn agama secara rusak-rusakan.
Mudah-mudahan Allah memberikan keadilan kepada mereka.
Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz
Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar