Rabu, 02 September 2015

Nur Iskandar Pidato Menghebohkan

Peristiwa yang menghebohkan telah terjadi akibat pidato KH Noer Muhammad Iskandar SQ, pendukung utama Gus Dur/ Presiden Abdurrahman Wahid yang bisa dimaknakan sebagai menghalakan darah Amien Rais, Akbar Tanjung dan konco-konconya. Ucapan KH Noer Muhammad Iskandar bisa menjadi berita heboh, karena memang menyangkut nyawa  tokoh sesama Islam. Betapa tidak. Pidato Noer Iskandar itu sampai melontarkan perkataan: 

   “Lho, kalau Anda mati lawan Samandiyah-Samandiyah (maksudnya memlesetkan Muhammadiyah jadi Samandiyah, pen) itu, Anda mati lawan Amien Rais dan Konco-konconya, Anda mati lawan Akbar Tanjung dan konco-konconya, Anda masih mendapat kredit point, masuk surga karena Anda membela ulama,” kata Noer Iskandar dalam pidato pada acara yang disebut halal bi halal (acara ini di Islam tidak ada sumbernya, pen) di Desa Karang Tanjung, Kebumen, 12 Januari 2001, di hadapan warga NU.

   Untuk lebih lengkapnya di sini dikutip sebagian isi ceramah Noer Iskandar SQ itu, sebagaimana dimuat di Majalah Media Dakwah terbitan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di Jakarta,  sebagai berikut:

   “...Wis (sudah) tidak usah khawatir di dunia ini (sambil membaca ayat Al-Qur’an كم من فئة قليلة غلبت فئة كثيرة بإذن الله  ). Tidak selalu yang besar menang dari yang kecil, banyak yang kecil yang menang dari yang besar. Yang lemah menang dari yang besar, mengapa? Yang lemah mendapatkan pertolongan Allah SWT. Dan itu dipidatokan oleh Gus Dur di Sidang Tahunan MPR: “Saya saking cinta saya sama keadilan, sampai saya mewiridkan surat An-Nisaa’ ayat 135 delapan belas kali sehari semalam,”  kata Gus Dur. 

   Baru sekarang ada Presiden laporan akhir tahun, laporan wiridan. Kalau enggak, Gus Dur, nggak ada itu.... Anehnya itu semua aggota MPR iya- iya saja digoblokin.

   Apa yang terjadi saudara dengan wiridan itu? Ternyata, in the last minute, menit-menit terakhir, ketika kepala Komisi A, B, C, akan memutuskan ditolaknya laporan Gus Dur, Sidang Tahunan menjadi Sidang Istimewa, yang berarti Gus Dur berhenti dari presiden satu tahun, tiba-tiba semua pimpinan komisi semua ketakutan. Semua pikirannya sama. Kalau laporan ini kita tolak,  Sidang Tahunan menjadi Sidang Istimewa, Gus Dur berhenti jadi presiden, orang NU Kebumen ngamuk, semua kita (DPR-MPR) ditelanjangi terus kaya’ (seperti) apa. 

    Itu terjadi saudara-saudara, strategi Allah, makanya betul apa yang difirmankan Allah.... Kalau rekayasa Allah datang, rekayasa manapun tidak akan ada yang mampu menandinginya. Amien... Ya Robbal ‘aalamien. Apalagi Gus Dur ini ulama, Gus Dur ini pertaruhan ulama. Bukan persoalan Gus Dur-nya, Gus Dur jatuh pertanda ulama jatuh. Karena itu apapun yang terjadi, kita tetap membela Gus Dur dalam rangka membela ulama di Republik Indonesia ini. Lho, kalau Anda mati lawan Samandiyah-Samandiyah itu, Anda mati lawan Amien Rais dan konco-konconya, Anda mati lawan Akbar Tanjung dan konco-konconya, Anda mati mendapat kredit point masuk surga, karena Anda membela ulama. 

   Tapi Golkar membela korupsi, neraka Golkar ha... eue (ungkapan spontan dan kaset terputus  dan terganggu)... (mengutip ayat Al-Qur’an). Ini artinya apa, Nabi seolah-olah, menyatakan memproklamirkan seolah-olah yang aku wariskan di dunia ini kepada para ulama, hanya satu al akhlak al karimah. Nopo  si (apakah ada) akhlak nganti (sampai) nipu, masya Allah, Nabi ditipu. Saking saene (karena baiknya), jangankan terhadap orang yang berbuat baik, enten tiang sing pualing (ada orang yang paling) benci dumateng (kepada) Nabi, golongan Kafir Arab Qurais, disingkat Gokkarqur. Sangking bencine (karena bencinya) kepada Nabi, Kalau Nabi lewat di depan rumah sahabat Nabi, “diidoni raine” (diludahi mukanya) cuh, cuh, sesekali ludahnya bau jengkol.

   Nabi marah ? enggak! Malah suatu ketika yang biasa ngeludahin (meludahi) tidak nampak di tempat itu, justru Nabi tungguin (tunggui), sampai ada sahabat lewat bertanya, “Ya Muhammad, nungguin (menunggui) siapa?”

   Nabi menjawab, “Nungguin (menunggui) langganan”.
   “Langganan apa?”
   “Langganan ludah. Tiap pagi, Fulan bin Fulan itu”,
    “Itu kan tokoh preman di kampung ini Pak, sekarang sedang sakit keras dia. Semua orang kampung di sini berdo’a, supaya mampus dia, Pak. Do’ain (do’akan) supaya dia cepat mati, lengkap kalau mati”.

   Nabi mendengar orang yang suka ngeludahin sakit keras, sakit, tidak jadi pergi. Balik dia, perintahkan isterinya, “Tolong deh bungkuskan semua kue yang ada”, (kemudian) ditenteng sendiri oleh Nabi.
   Diketuk pintunya, tuk...tuk...tuk, “Masuk”. Di dalam yang punya rumah menggigil, buka pintunya sama Nabi pelan-pelan. Begitu terbuka matanya terkejut, “Ya, Muhammad, engkau datang ke tempat ini, pasti engkau akan menggunakan kesempatan, kau akan balas aku, ya Muhammad.”
   Dicium sama Nabi keningnya dan berkata: “Engkau jangan salah sangka, sedikitpun tidak ada dalam hatiku, justeru aku datang untuk mendo’akan kau supaya cepat sembuh, supaya sempat meludahin saya lagi”. 

   “Kok begitu, ya Muhammad?”
   “Iya, karena setiap ludah yang menempel di mukaku, Allah akan ampunkan dosaku. Sejumlah ludah yang menempel di ludahku (di mukaku?, pen) Allah akan angkat derajatku.”
   Marahkah Gus Dur  dihujat dan difitnah macam-macam? Tidak, tidak marah.

   Ada seorang Kyai sepuh (tua) dari Jawa Tengah ini, malahan datang ke sana (Jakarta), saya menjadi saksi, kepergok. Gus, tidak terima saya rasanya kaya’ (seperti) begini, bukan kau, tapi ulama sakit. Wis aku mujahadah (bersungguh-sungguh usaha secara lahir dan batin), asal sampean (Anda) ... tak wacakne Allah karo ping telu (saya bacakan Allah dengan tiga kali). Akbar Tanjung, Amien Rais, Fuad Bawazier, lengah... (tidak jelas suaranya).

   Masya Allah. Saya bilang, persilahkan tuan-tuan, antek-antek Akbar Tanjung dan antek-antek  Amien Rais, hujat terus dan fitnah terus, semakin dihujat semakin tinggi derajat Gus Dur, kalaupun malah jadi presiden yang kedua kalinya. Amien ya Robbal ‘alamien... (tidak jelas kasetnya)...  

   Hai orang Karang Tanjung semuanya, ketika nanti penghuni neraka jahannam itu dibakar oleh Malaikat Malik, yang dibakar bukan kaki dan tangannya, jidatnya duluan. Dibakar di wajan. Ingkang asmane (yang namanya) jahannam...terik, menjerit, mengaduh mereka, adu, adu, du, duh, kembalikan kembali kami di Karang Tanjung. Ya Allah supaya kami bisa memperbaiki dan bisa taat kepadaMu. Dijawab sama Malaikat, “Sudah digusur, monyong, brengsek lhu, ngomong saja, masuk ke neraka sana.... dalam sebuah tafsir: Ya Allah, kami patuh kepada ulama dan umara’ kami, tapi sayang ulama dan umara’ kami tidak mau tahu tentang pendidikan agama, tidak mau tahu tentang da’wah. Jadi sebenarnya Pak Camat, Pak Wedono, Pak Kiyai bukan tugas yang utama, tidak hanya ngurusin KTP, tidak hanya ngurusin wisik rakyat, tapi juga ngurusin akhlak dan jiwa.....” 

  Majalah Media Dakwah pada akhir tulisannya memberi komentar: “Ceramah Noer Iskandar ini tak lebih justru berisi hujatan-hujatan keji. Na’udzubillahi min dzaalik.”
   Demikianlah kutipan dari ceramah Noer Muhammad Iskandar yang dimuat Majalah Media Dakwah dengan judul Noer Iskandar SQ dan Kiyai Penganjur Kemusyrikan.
   Menyimak pidato Noer Iskandar SQ itu, secara keseluruhan bisa diambil beberapa butir arah pembicaraan:
1.      Menganggap tindakan Gus Dur benar bahkan hebat.
2.      Menganggap DPR-MPR bisa digoblokin oleh Gus Dur
3.      Menganggap DPR dan MPR takut dengan amukan orang NU walaupun hanya NU Karang Tanjung Kebumen.
4.      Menganggap amalan Gus Dur mencintai keadilan cukup dengan mewiridkan ayat tentang keadilan, itu benar (menurut Islam).
5.      Menganggap Gus Dur itu wajib dibela, karena wakil ulama, siapa membelanya dan mati maka dapat kredit point masuk surga.
6.      Menganggap Amien Rais dan Akbar Tanjung beserta konco-konconya itu mesti dilawan, dan melawannya itu (secara tersirat) sama dengan melawan orang kafir, maka matinya masuk surga. Ini bisa diartikan, KH Noer Muhammad Iskandar SQ itu memprovokasi untuk melawan bahkan membunuh Amien Rais dan Akbar Tanjung serta teman-temannya. Provokasi untuk membunuh itu bisa difahami dari kata-kata Noer Iskandar: “Anda mati lawan Amien Rais dan konco-konconya....”  Padahal, Amien Rais dan konco-konconya itu bukan orang kafir. Orang kafir pun tidak boleh dibunuh, kecuali memang kafir harbi (yang memusuhi Islam) atau karena hukum lain, misalnya karena dia membunuh. Sedangkan dalam Al-Qur’an ditegaskan:
  ومن يقتل مؤمنا                         
                                                                   عذابا عظيما. (النساء: 93).

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam, kekal ia di dalamnya, Allah murka kepadanya, mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS an-Nisa’/ 4: 93).

    Al-Qur’an menegaskan, membunuh orang mukmin dengan sengaja maka balasannya masuk neraka jahannam, kekal di dalamnya. Namun Kiyai Noer Iskandar justru menjanjikan surga. Yang punya surga yaitu Allah SWT saja mengancam dengan balasan neraka, malah yang tidak punya surga menjanjikan surga. Betapa beraninya orang NU ini. 

    Di samping itu, kalau cara membunuhnya itu ramai-ramai seperti yang diprovokasikan itu, maka ada ancaman pula dari Rasulullah saw:
  لو أن أهل السماء وأهل الأرض اشتركوا في دم مؤمن لكبهم الله في النار. (رواه الترمذي عن أبي هريرة).

“Seandainya penduduk langit dan bumi bersekutu dalam (menumpahkan) darah seorang mukmin, maka pasti Allah akan menelungkupkan mereka ke dalam neraka.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Di samping akan mendapatkan siksa di neraka, masih pula persekongkolan pembunuhan itu harus dihukum bunuh secara massal.
   أن عمر رضي الله عنه قتل سبعة في غلام قتل بصنعاء وقال: لو تمالأ عليه أهل الصنعاء لقتلتهم.
   “Bahwa sesungguhnya Umar ra pernah membunuh tujuh orang karena seorang anak yang dibunuh di Shan’a dan ia (Umar) berkata: Kalau penduduk Shan’a saling membantu dalam kasus pembunuhan ini tentu mereka kubunuh semuanya.”

   Ibnu Katsir berkata: Tidak diketahui ada orang yang menentang putusan Umar tersebut, di masanya, dan yang demikian itu (menjadi) semacam ijma’ (Sahabat).

  Apa yang terjadi di Indonesia? Justru penguasa, Presiden Gus Dur/ Abdurrahman Wahid berbalikan dengan Umar bin Khatthab itu, malahan Gus Dur bersekongkol dengan provokator KH Noer Muhammad Iskandar SQ yang menghalalkan darah Amien Rais dan lainnya itu. Tidak terdengar adanya ungkapan Gus Dur yang menyesalkan provokasi Nur Iskandar sama sekali. Maka Gus Dur pun sebenarnya terkena ucapan Umar bin Khatthab itu.
7.      Menganggap Gus Dur dan pendukungnya (tentunya NU-PKB) itu ibarat Nabi dan para sahabatnya. Sedang lawannya itu adalah kafir Quraisy, maka melawannya akan mendapatkan kredit point masuk surga.
8.      Membuat-buat cerita tentang Riwayat Nabi saw yang tampak konyolnya, karena orang yang diceritakan sering meludahi Nabi saw ludahnya bau jengkol. Padahal, di Arab tidak ada jengkol, atau jengkol itu bukan makanan kesukaan di sana sama sekali.
   Seluruh pidato itu intinya adalah mengkultuskan Gus Dur, sambil memperalat Islam dengan diplintir-plintir semaunya. 

    Seandainya Kiyai yang pernah heboh karena skandalnya dengan seorang janda ini sekadar mengkultuskan Gus Dur belaka, maka dosanya hanyalah satu, tentang pengkultusan itu. Dan itu sudah cukup sangat besar. Namun bukan hanya itu. Masih pula ia mengqiyaskan, hingga tergambarkan bahwa Gus Dur itu kesabarannya bagaikan kesabaran Nabi saw tidak pernah marah. Maka siapa yang membelanya, diposisikan sebagai membela Nabi atau ulama sehingga masuk surga. Dan lawannya dianggap bagaikan golongan kafir Quraisy yang tempatnya di neraka. Ini sangkutannya banyak sekali. Ya pengkultusan, ya pemlintiran Islam, ya permusuhan terjhadap lawan politik dengan mengibaratkannya sebagai posisi orang kafir.

   Semuanya itu masih ditambahi dengan legitimasi pengamalan Islam cara Gus Dur yang ia puji-puji. Hingga tak pernah ada kalau presidennya bukan Gus Dur. Laporan tahunan tapi laporannya tentang wiridan. Dari segi penerapan saja, laporan wiridan disampaikan kepada sidang tahunan MPR (kalau wiridannya itu sendiri benar secara Islam, misalnya) itupun  tidak ada kebaikannya. Kata pepatah Arab, tidak ada kebaikannya, meletakkan kebaikan tidak pada tempatnya. Itupun kalau wiridannya baik dan benar menurut Islam. Mengenai wiridannya itu sendiri, ada persoalan serius. Dengan mengumumkan cintanya kepada keadilan lalu mewiridkan ayat tentang keadilan tiap hari, itu dari mana tuntunannya? 

Kalau saking cintanya kepada keadilan, lalu Gus Dur menekuni pencarian di mana saja adanya ketidakadilan lalu dicari jalan keluarnya agar jadi adil, itu baru namanya cinta keadilan benar-benar. Sehingga, yang pantas dibanggakan oleh Noer Iskandar, mestinya dalam bentuk begini: Gus Dur saking cintanya kepada keadilan, maka dia berkeliling ke panti-panti asuhan Muslim yang anak-anaknya kini makin kurus, terlantar, kurang terurus karena kurang dana, akibat dana tiap bulan yang dulunya sebelum Gus Dur memerintah selalu diperoleh dana itu, tetapi karena Depsos( Departemen Sosialnya) dibubarkan Gus Dur, kemudian dana itu tidak pernah ada lagi, maka panti-panti asuhan Muslim sekarang kelabakan kekurangan dana. Sementara itu panti-panti orang orang palangis dan salibis tetap mendapatkan dana dari mana-mana yang hubungannya dengan kristenisasi internasional, Indonesia diincar sebagai negara terbesar penduduk Islamnya. 

Maka, (misalnya sampai) Gus Dur keliling ke panti-panti asuhan Muslim sebagai ganti dosa-dosa yang telah dibuatnya yang mengakibatkan macetnya dana itu lalu mengucurkan dana dengan lebih besar dan lebih stabil, itulah yang bisa dibanggakan Kiyai Noer Iskandar. Seharusnya itu yang bisa dibanggakan. Tetapi, karena memang hal itu sama sekali tidak dilakukan, dan yang dilakukan –katanya adalah wiridan ayat tentang keadilan, maka ini sama dengan membuat syari’at atau mengumumkan sunnah baru, yaitu orang yang cinta keadilan cukup mewiridkan ayat tentang keadilan. Ini bisa dimaknakan, orang yang cinta anak yatim dan faqir miskin, bukannya menyantuni mereka, tetapi cukup mewiridkan ayat tentang anak yatim, faqir, dan miskin. Pemujian terhadap tingkah Gus Dur yang sebenarnya serba salah itu bukan sekadar salah biasa, namun sama dengan melegitimasi/ mengesahkan penyelewengan dan pemlintiran Islam.

   Antara kiyai yang didukung dan yang mendukung dalam kasus ini memang sama-sama mempermainakn agama secara rusak-rusakan. Mudah-mudahan Allah memberikan keadilan kepada mereka.
    

Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar