Tokoh Baha'i (aliran sempalan Syi'ah Imamiyah di luar
Islam), KS 68 tahun, meninggal dunia di Bandung, Senin 2 Syawal 1417H/ 10
Februari 1997M. Meninggalnya tokoh aliran Baha'isme (Baha'iyah) yang di
Indonesia telah dilarang sejak 1962 ini menjadikan pemandangan yang
tampak unik. Para pelayat yang hadir di sana menjadi dua kubu, menurut
penuturan salah seorang yang hadir melayat saat itu. Kubu Islam dan kubu
Baha'i ada di dalam keluarga mayat itu.
Mayat
yang masuk Baha'i tahun 1957 di Hongkong ini diupacarai secara Baha'i.
Kepala mayat itu ditolehkan ke kanan. Namun kemudian diputar paksa,
diluruskan, oleh salah satu keluarganya yang bukan Baha'i. Kepala mayat itu
diputar paksa diluruskan, hingga berbunyi "krek".
Meskipun demikian, para pelayat yang sebagian dari pengikut Baha'i,
orang-orang Iran, tampak menyembahyangi mayat ini. Sembahyang mayat itu
dengan cara duduk di depan mayat sambil mengangkat-angkat tangan. Dan
para pelayat yang Baha'i ini mengatakan, mayat ini mau dikubur di kuburan Islam, Kristen atau
lainnya sama saja, boleh-boleh saja.
Mayat
ini, menurut sumber tertentu, adalah ketua Baha'i di Indonesia, bahkan
tingkat Asia Tenggara. Dia dulunya seorang diplomat yang bertugas di
antaranya di Hongkong, dan ia masuk Baha'i di sana tahun 1957. Sedang Baha'i
itu masuk di Indonesia sejak tahun 1953. Menurut _Ensiklopedi Umum_,
Basha'isme dilarang di Indonesia tahun 1962 karena ada segi-segi kegiatan
mereka yang dianggap tidak sesuai dengan kepribadian Indonesia serta
menghambat penyelesaian Revolusi Indonesia.
Sumber itu menyebutkan, mayat ini punya hubungan erat dengan seorang tokoh
"serem" terkemuka (LBM) non Muslim yang dikenal sangat anti Islam, yang pada
masa sebelum tahun 1990-an sangat berperan dalam menekan dan
menyengsarakan umat Islam dengan berbagai kebijakannya. Dan pengaruhnya masih
terasa sampai kini walau tak menduduki suatu jabatan lagi. Acara-acara tokoh
Baha'i ini sering dihadiri tokoh non Muslim tersebut.
_Baha'iyah bukan Islam_
Baha'iyah atau baha'isme ini menyatukan atau menggabungkan agama-agama: Yahudi, Nasrani, Islam dan lainnya menjadi satu. Hingga aliran ini jelas-jelas dinyatakan sebagai non Islam. Prof Dr M Abu Zahrah ulama Mesir dalam bukunya _Tarikh Al-Madzaahibil Islamiyyah fis Siyaasah wal 'Aqoid™ menjelaskan secara rinci penyimpangan dan kesesatan Baha'iyah, dan ia nyatakan sebagai aliran bukan Islam, berasal dari Syi'ah Itsna 'Asyariyah. Pendiri aliran ini Mirza Ali Muhammad al-Syairazi lahir di Iran 1252H/ 1820M. Ia mengumumkan, tidak percaya pada hari akhir,
surga dan
neraka setelah hisab/ perhitungan. Dia menyerukan bahwa dirinya adalah potret
dari nabi-nabi terdahulu. Tuhan pun menyatu dalam dirinya (hulul). Risalah
Muhammad bukan risalah terakhir. Huruf-huruf dan angka-angka mempunyai tuah
terutama angka 19. Perempuan mendapat hak yang sama dalam menerima harta
waris. Ini berarti dia mengingkari hukum Al-Quran, padahal mengingkari
Al-Quran berarti kufur, tandas Abu Zahrah. Mirza Ali dibunuh pemerintah
Iran tahun 1850, umur 30 tahun. Sebelum mati, Mirza memilih dua muridnya,
Subuh Azal dan Baha'ullah. Keduanya diusir dari Iran. Subuh Azal ke
Cyprus, sedang Baha'ullah ke Turki. Pengikut Baha'ullah lebih banyak, hingga
disebut Baha'iyah atau Baha'isme, dan kadang masih disebut aliran Babiyah, nama
yang dipilih pendirinya, Mirza Ali. Kemudian kedua tokoh itu bertikai, maka
diusir dari Turki. Baha'ullah diusir ke Akka Palestina. Di sana ia
memasukkan unsur syirik dan menentang Al-Quran dengan mengarang _Al-Kitab
Al-Aqdas™ diakui sebagai dari wahyu, mengajak ke agama baru, bukan
Islam. Baha'ullah menganggap agamanya universal, semua agama dan ras bersatu
di dalamnya.
_Ajaran
Baha'ullah_
-Menghilangkan setiap ikatan agama Islam, menganggap syare'at telah kadaluarsa. Maka aliran ini tak ada kaitan dengan Islam. -Persamaan antara manusia meskipun berlainan jenis, warna kulit dan agama. Ini inti ajarannya.
-Merubah peraturan rumah tangga dengan menolak ketentuan-ketentuan Islam.
Melarang poligami kecuali bila ada kekecualian. Poligami inipun tidak
diperbolehkan lebih dari dua isteri. Melarang talak kecuali terpaksa yang
tidak memungkinkan antara kedua pasangan untuk bergaul lagi. Seorang istri
yang ditalak tidak perlu iddah (waktu penantian). Janda itu bisa langsung
kawin lagi.
-Tidak
ada shalat jama'ah, yang ada hanya shalat jenazah bersama-sama. Shalat
hanya dikerjakan sendiri-sendiri.
-Ka'bah
bukanlah kiblat yang diakui oleh mereka. Kiblat menurut mereka adalah tempat
Baha'ullah tinggal. Karena selama Tuhan menyatu dalam dirinya maka di
situlah kiblat berada. Ini sama dengan pandangan sufi (orang tasawuf) sesat
bahwa _qolbul mukmin baitullah_, hati mukmin itu baitullah.
_Berpusat di Chicago_
Masa Baha'ullah berakhir dengan meninggalnya pada 16 Mei 1892, dilanjutkan anaknya, Abbas Efendy yang bergelar Abdul Baha' atau Ghunun A'dham (cabang agung). Abbas menguasai budaya Barat, maka ia gabungkan ajaran ayahnya dengan pemikiran Barat. Hingga Abbas cenderung menggunakan kitab-kitab agama Yahudi dan Nasrani.
Masa Baha'ullah berakhir dengan meninggalnya pada 16 Mei 1892, dilanjutkan anaknya, Abbas Efendy yang bergelar Abdul Baha' atau Ghunun A'dham (cabang agung). Abbas menguasai budaya Barat, maka ia gabungkan ajaran ayahnya dengan pemikiran Barat. Hingga Abbas cenderung menggunakan kitab-kitab agama Yahudi dan Nasrani.
Abu
Zahrah menegaskan: "Jika guru pertama (Mirza Ali) pada aliran ini sudah
melangkah dalam penghancuran ajaran Islam dengan mengatas namakan
pembaharuan, lalu penerusnya (Baha'ullah) menyempurnakannya dengan
mengingkari semua ajaran Islam serta menyingkirkannya, dan penerus berikutnya
(Abbas Baha') melangkah lebih jauh dari itu. Dia bahkan mengambil kitab-kitab
Yahudi dan Nasrani untuk mengganti Al-Quran."
Baha'iyah berkembang di Eropa dan Amerika berpusat di Chicago. Aliran ini
dinilai Abu Zahrah sebagi ajaran yang diada-adakan belaka. Mereka menggunakan
topeng Taqiyah, yaitu cara mengelabui manusia dengan menyembunyikan alirannya,
padahal yang terselubung di dalam hatinya adalah usaha untuk mendangkalkan
aqidah Islam dan menghancurkan ajaran-ajarannya dan menjauhkan dari
pemeluknya.
Yang
pasti, lanjut Abu Zahrah, aliran Baha'iyah mempunyai kegiatan pesat di
wilayah kaum muslimin di kala mereka diberi kebebasan oleh musuh-musuh Islam,
yaitu penjajah. Maka Baha'iyah semakin kuat setelah terjadi perang Dunia I dan
Perang Dunia II.
Baha'iyah
sekarang sedang mengangkat kepalanya, namun tetap harus ditumpas atau
dikembalikan ke daerah pusat kegiatannya, Chicago.” _
Persoalan di Indonesia
Bahaullah, pemimpin Baha’i itu mati tahun 1892, kuburannya di Israel,
tepatnya di Akka. Ia mengaku memiliki kitab suci yang diberi nama
Al-Aqdas (yang lebih suci) Kepercayaan yang diajarkannya adalah
sinkretisme. Kaum Baha’i percaya bahwa Al-bab (sama dengan Bahaullah) adalah
pencipta segala sesuatu dengan kata-katanya. Dalam Baha’i dikenal konsep
wahdatul wujud, menyatunya manusia dengan Tuhannya (itu sama dengan
kepercayaan sufi sesat yang ditokohi oleh Ibnu Arabi, pen). Mereka juga
mempercayai reinkarnasi, keabadian alam semesta. Buddha, Konghucu, Zoroaster,
dan agama lain dianggap sebagai jalan kebenaran. Mereka mentakwilkan Al-Qur’an
dengan makna batin. Mereka percaya bahwa wahyu akan turun terus membimbing
manusia. Pemikiran Baha’i banyak mengacu pada pemikiran Zoroaster, Mani, dan
Mazdakiyah yang pernah hidup lama di Persia. Lantas semakin matang melalui
pertemuannya dengan Islam, Kristen, dan Yahudi. (lihat Majalah DR 20-26
Desember 1999, hal 55).
Secara organisasi, Baha’i berpusat di Haifa, Israel. Baha’i tersebar di 235
negara melalui Baha’i International Community (BIC) yang sejak 1970 memperoleh
status resmi sebagai badan penasihat Dewan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa)
dalam bidang Sosial Ekonomi (Ecosoc) dan Unicef. (ibid, hal 55).
Ajaran Baha’i ini masuk ke ke Indonesia sekitar tahun 1878 (sebelum matinya
dedengkot Baha’i, Bahaullah di Israel 1892, pen) melalui Sulawesi yang dibawa
dua orang pedagang: Jamal Effendi dan Mustafa Rumi. Melihat namanya tentu
berasal dari Persia dan Turki. Ia berkunjung ke Batavia, Surabaya, dan Bali.
Baha’i dilarang di Indonesia sejak 15 Agustus 1962. Presiden Soekarno
mengeluarkan Keputusan Presiden No 264/ Tahun 1962 yang berisikan pelarangan
tujuh organisasi, termasuk Baha’i. Kata-kata di bawah surat Keppres tersebut
menjelaskan bahwa ajaran dan organisasi-organisasi tersebut –termasuk Liga
Demokrasi dan Rotary Club—dilarang karena “tidak sesuai dengan kepribadian
Indonesia, menghambat penyelesaian revolusi, atau bertentangan dengan cita-cita
sosialisme Indonesia.” (DR, hal 55).
Baha’i, dengan jaringan internasional yakni pusat organisasinya di Israel,
sedang pusat kegiatannya di Chicago Amerika, maka imbasnya terhadap para antek
Israel tampak nyata pula di Indonesia. Hingga di Indonesia, ada pula alumni
Chicago bersama antek-anteknya yang berani mengumandangkan bahwa lelaki Muslim
menikahi wanita-wanita non Muslim, baik itu Hindu, Budha, maupun Sinto
adalah sah. Alasan doktor dari Chicago itu, karena larangan menikahi
musyrikat (wanita musyrik, menyekutukan Allah SWT dengan lain-Nya) dalam
Al-Quran itu hanya musyrikat Arab. Tokoh ini telah pudar pamornya karena dihujat
oleh umat Islam dikaitkan dengan imbas ajaran Zionis Yahudi. Kini ditambah
lagi bukti dengan imbasan ajaran Baha'i yang memang pusat kegiatannya di
Chicago sedang pusat organisasinya di Israel, dan ternyata ketahuan, tokoh
utamanya di Indonesia mati usai Iedul Fitri 1417H/ 1997M di
Bandung.
Hanya saja karena bangsa ini tampaknya tidak begitu mempedulikan masalah-masalah
yang mempecundangi Islam, maka tokoh yang pemikirannya sangat ngaco dan
mengacak-acak Islam itu tahu-tahu diangkat-angkat dengan julukan Guru Bangsa.
Maka makin menjadi-jadilah upaya pengacak-acakan terhadap Islam, bukan hanya
sendirian, tetapi memakai barisan yang aktif bicara di mana-mana. Hingga
pendapat-pendapatnya yang sangat bertentangan dengan Islam dan merusak Islam pun
tersebar di mana-mana. Bahkan seolah pendapat yang mengacak-acak Islam itu
menjadi semacam “satu modal” (kredit poin) untuk mendapatkan jabatan tinggi di
negeri Indonesia yang tampaknya para pejabatnya alergi terhadap syari’at Islam
ini. Misalnya Dr Komaruddin Hidayat, tokoh Yayasan Paramadina, dosen Pasca
sarjana IAIN Jakarta yang belakangan tahun 1998 diangkat oleh Menteri Agama
Malik Fajar menjadi Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam, sebelumnya dulu di
tahun 1996 melontarkan pendapat bahwa pernikahan artis / bintang film Ira Wibowo
(perempuan beragama Islam) dengan penyanyi Katon Bagaskara (laki-laki beragama
Nasrani Protestan berubah jadi Katolik) tidak apa-apa (sah-sah saja, red) asal
tidak mengganggu keimanannya. Padahal, dalam Islam telah jelas keharamannya.
Allah SWT menegaskan:
يأيها الذين ءامنوا
...................................................... ولاهم يحلون
لهن.
“Hai
orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan
yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui
tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka
(benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami
mereka) orang-orang kafir. Mereka (perempuan-perempuan mukminah) tidak halal
bagi
orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu tidak halal pula
bagi mereka.” (QS Al-Mumtahanah/ 60:10).
Apabila orang Paramadina atau yang sefaham dengan lembaga yang dirintis Dr
Nurcholish Madjid itu masih belum mau mengakui keharaman pernikahan antara
Muslimah dengan Nasrani, maka Hadits berikut ini cukup untuk memberi pelajaran
kepada mereka:
إذا أسلمت النصرانية قبل زوجها بساعة
حرمت عليه. (رواه البخاري).
“Idzaa aslamatin nashrooniyyatu qobla zaujihaa bisaa’atin hurrimat
‘alaihi.”
“Apabila seorang wanita Kristiani masuk Islam sebelum suaminya
(masuk Islam) sesaat saja, maka wanita itu diharamkan atas suaminya itu
tadi.”(Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya bab 20 dari kitab
At-Thalaq, dikutip Ibnu Taimiyyah dalam Ahkaamuz Zawaaj, terjemahannya:
(Hukum-hukum Perkawinan), Pustaka Al-Kautsar Jakarta, 1997, hala 82).
Gejala mensahkan pernikahan Muslimah dengan laki-laki Kristiani itu bukan
sekadar omongan ketika diwawancarai majalah atau koran, namun difatwakan pula
kepada pelakunya langsung yang bertanya ke Yayasan Paramadina Jakarta. Hal itu
seperti yang diceritakan sendiri oleh Dr Zainun Kamal yang juga pengasuh di
Paramadina dan juga dosen IAIN Jakarta. Dia ceritakan bahwa dirinya ditanya oleh
seorang Muslimah yang nikah dengan lelaki Nasrani, maka dijawab bahwa nikahnya
itu sah. Padahal sebelumnya, menurut cerita dia, orang-orang yang ditanya oleh
perempuan itu senantiasa menjawab bahwa pernikahannya tidak sah menurut Islam.
Dr Zainun menambahkan, setelah mendapatkan jawaban dari Dr Zainun bahwa
pernikahan perempuan Muslimah dengan lelaki Nasrani itu sah, akhirnya suami
sang Muslimah itu masuk Islam. Jadi Muslimah itu lega sekali dengan jawaban yang
dikemukakan tersebut, ungkap Dr Zainun Kamal.
Terhadap jawaban model itu ada yang perlu dicermati. Islam itu tidak tergantung
lega atau tidaknya seseorang, tetapi dalilnya itu shahih atau tidak. Demikian
pula, Islam itu hukumnya tidak tergantung kepada “:orang non Islam mau masuk
Islam atau tidak”. Jawaban yang sesuai dengan dalil yang shahih, walaupun tidak
mengakibatkan orang non Muslim masuk Islam, tetap jawaban itu benar. Sebaliknya,
fatwa yang bertentangan dengan dalil yang shahih, walaupun mengakibatkan
masuknya non Muslim kepada Islam, tetap fatwa itu berlawanan dengan Islam.
Misalnya, ada lelaki Muslim menikahi wanita Nasrani yang keadaannya dalam masa
‘iddah/ tunggu --karena suaminya (Muslim, dulunya nikah secara Islam, karena
lelaki Muslim boleh menikahi wanita Kristen yang muhshonat/ baik-baik) meninggal
baru 40 hari (‘iddahnya 4 bulan 10 hari). Lalu setelah diadakan pernikahan
antara lelaki Muslim (suami baru) dengan janda Kristiani yang dalam masa ‘iddah
itu, kemudian mereka berdua bertanya kepada seorang doktor, misalnya.
Pertanyaannya: Apakah perkawinannya yang dalam masa ‘iddah itu sah? Kemudian
dijawab oleh sang doktor, misalnya, bahwa nikahnya di masa ‘iddah itu sah.
Saking leganya hati si penanya, maka wanita Kristiani ini masuk Islam. Apakah
masuknya Islam si wanita itu menunjukkan benarnya jawaban tentang pernikahan
yang batil karena masih dalam masa ‘iddah itu? Tentu saja tidak benar.
Demikianlah. Telah jelas dan gamblang. Betapa rancunya pemikiran orang
model-model itu. Tampak sekali. (Lihat kematian Lady Diana Mengguncang Akidah
Umat, Darul Falah, Jakarta, 1997, hal 40-41).
Kembali kepada persoalan awal, pemahaman Baha’i yang sangat rancu dan merusak
Islam, sampai menerapkan kitab Yahudi dan Nasrani untuk mengganti Al-Qur’an pun
ditempuh, ternyata di sini ada pula orang-orang yang sefaham dengan itu, yang
caranya adalah mengganti hukum dari ayat-ayat dan hadits-hadits dengan
pendapatnya sendiri.
Walhasil, Zionis plus Baha'i yang jelas-jelas di masa Soekarno dan
Soeharto terlarang di Indonesia, ternyata ada oknum-oknumnya yang secara
ideologis sangat mendukungnya. Itulah sebenarnya yang perlu diwaspadai, karena
senantiasa akan menghancurkan Islam lewat lembaga dan pemikiran mereka.
Yang
menyedihkan lagi, tokoh-tokoh Organisasi Islam terkemuka pun sering menyuarakan
kesesatan atau mendukung kesesatan secara nyata dan beramai-ramai. Misalnya,
satu kenyataan munculnya desakan dari sidang Tanwir Muhammadiyah (sidang
tertinggi setelah Muktamar) di Bandung Desember 1999 meminta pemerintah agar
segera mengakui keberadaan Konghucu. Padahal sebelumnya, Konghucu dianggap bukan
agama dan dianggap bukan dari agama Buddha. (lihat DR, 20 Desember 1999,
hal 47).
Di
samping itu, ada dedengkot yang suka berpikiran nyeleneh (aneh-aneh) yang
mengadakan upacara do’a bersama antar agama di rumahnya di Ciganjur Jakarta.
(Tentang haramnya do’a bersama antar berbagai agama itu baca buku ini dalam bab
Ruwatan dan do’a bersama antar agama). Pada acara do’a bersama antar agama itu
muncul pula orang-orang Baha’i di rumah dedengkot nyeleneh itu, dan
berdialog pula. Dan itu menurut Djohan Efendi (dulu ketua Badan Penelitan dan
Pengembangan Agama Departemen Agama, kemudian masa pemerintahan Gus Dur diangkat
sebagai sekretaris negara) sering dilakukan dialog antara orang Baha’i dengan
Gus Dur di rumahnya di Ciganjur Jakarta waktu belum jadi presiden.
Apa yang
dikemukakan Djohan itu merupakan salah satu bukti “kecintaan” Gus Dur kepada
kepercayaan yang mengacak-acak Islam ataupun yang bertentangan dengan Islam. Dan
bentuk “kecintaannya” itu dipraktekkan dengan menggunakan aneka cara,
lebih-lebih ketika ia memegang kekuasaan. Maka, begitu biang antek Zionis di
Indonesia itu memegang kepemimpinan nasional sejak Agustus 1999, dia buru-buru
meresmikan kepercayaan kemusyrikan yang menyembah tepekong (yang secara resmi
diusulkan oleh Sidang Tanwir Muhammadiyah di Bandung tersebut), dan tidak lupa
pula meresmikan Baha'i yang dekat dengan misi Zionis itu di Bandung.
Di balik itu semua ada
uniknya.
Konon,
begitu aliran sempalan Syi’ah yang mengacak-acak Islam, yaitu aliran Baha’i itu
telah diresmikan oleh dedengkot antek Zionis, maka hari berikutnya muncul
pernyataan resmi anak buahnya, yaitu dari NU (Nahdlatul Ulama) daerah Bandung
yang menolaknya. Demikianlah, walaupun orang-orang Nahdliyin (warga NU) itu
tidak berani memukul bekas ketua umumnya, namun mereka berani menolak apa yang
diresmikannya. Dan itu menandakan bahwa mereka berani menentang diresmikannya
salah satu tempat yang menjadi sumber penghancuran Islam. Tindakan semacam itu
insya Allah akan tetap terjadi, bila pihak penguasa justru menghidup-hidupkan
aliran yang merusak Islam.
Anehnya lagi, ketika pemerintahan Indonesia dipegang oleh Soekarno yang
diteruskan Soeharto, saat itu aliran Baha'i yang memang merancukan aqidah itu
dilarang. Ini sesuai dengan aspirasi Ummat Islam, mayoritas penduduk negeri ini,
walau tujuan pelarangan oleh Sokerno itu bukan karena membela Islam. Sebaliknya,
ketika pemerintahan dipegang oleh Gus Dur/ Abdurrahman Wahid, seorang yang
disebut Kiai Haji, bahkan ada yang menganggapnya wali, dan pernah dua periode
menjadi ketua umum organisasi Islam terbesar yaitu NU (Nahdlatul Ulama), malahan
dia resmikan Baha’i (faham sempalan Syi’ah yang sesat), yang mengacak-acak Islam
dan pro Zionis Yahudi itu. Aneh. Boleh dipertanyakan, apakah memang tujuannya
ingin merusak Islam? Wallahu a'lam. Ada kata-kata: ad-dhoohiru yadullu
'alal baathin, yang tampak itu menunjukkan yang di dalam batin. Begitulah!
Walaupun seandainya Gus Dur tidak berniat menghancurkan Islam, namun dengan
tingkahnya yang menghidup-hidupkan/ meresmikan aneka kepercayaan yang
bertentangan dengan Islam itu sudah otomatis merugikan Islam, bahkan menyakiti
Islam. Dengan kata lain, Islam menegaskan untuk berjihad menghadapi kepercayaan
batil yang tak sesuai dengan Islam, sedang Gus Dur berada di barisan depan
secara berseberangan dengan perintah Islam itu.
Apa
kerugian Islam? Kerugiannya, sebagian orang terutama para muqollid buta di
belakang Gus Dur menganggap, tingkah Gus Dur itu sesuai dengan Islam, karena Gus
Dur dianggap sebagai simbol ulama, menurut KH Noer Muhammad Iskandar SQ, bahkan
membela ulama (yang simbolnya Gus Dur) itu merupakan bagian dari tiket surga,
katanya. Jadi, tingkahnya yang sedemikian berseberangan dengan Islam itu jelas
merugikan Islam, dan menyakiti, namun dianggap kalau mengikuti dan membelanya
justru akan mendapatkan tiket surga. Sedangkan orang yang ingin berjuang
menegakkan Islam justru dianggap perlu dilawan. Itulah salah satu keberhasilan
dari liciknya sistem Zionis yang memelihara Baha’i dan aneka aliran yang
mempecundangi Islam.
Tasawuf, Pluralisme, & Pemurtadan.
- H Hartono Ahmad Jaiz -
Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar