Jumat, 04 September 2015

Jawaban atas syubhat/ kesamaran

Hadits tersebut di atas menjadi salah satu syubhat/ kesamaran yang  dijawab oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin  dalam kitabnya, Al-Qowaa'id al-Mutslaa fii Shifaatillaah wa  Asmaa-ihil Husna.
Menurut Syaikh 'Utsaimin, hadits tersebut shahih,  diriwayat­kan oleh Al-Bukhari dalam Kitab ar-Riqaq, bab tawadhu'.

Golongan Salaf, Ahlus Sunnah wal Jama'ah, telah memahami hadits ini menurut dhahirnya dan memberlakukannya  menurut apa adanya.
Akan tetapi, apakah dhahir dari hadits ini?

Apakah dikatakan: Dhahir hadits ini bahwa Allah  SWT  menjadi telinga,  mata, tangan dan kaki si Wali? Ataukah dikatakan: Dhahirnya bahwa Allah SWT meluruskan atau membenarkan si Wali  dalam pendengaran,  penglihatan,  gerakan tangan dan  langkah  kakinya, sehingga pengetahuan dan amal perbuatannya lillaah (ikhlas karena Allah), billaah (dengan memohon pertolongan Allah), dan fillaah (menuruti syari'at Allah)?
Tidak diragukan lagi, ungkap Syaikh Utsaimin, bahwa  perkataan pertama bukanlah dhahir dari hadits tersebut. Bahkan, bagi  orang yang memperhatikan lafadznya, hadits ini tidak menunjukkan  peng­ertian itu. Soalnya, terdapat dalam lafadh hadits ini dua  alasan yang menolak pengertian tadi (Allah menjadi telinga dst):
Pertama: bahwa Allah SWT berfirman dalam hadits Qudsi ini:

Dan hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan amal-amal sunnah, maka Aku senantiasa mencintainya."  dan berfirman pula:

Bila  ia memohon kepada-Ku, Aku perkenankan permohonannya,  jika ia meminta perlindungan, ia Kulindungi."
Ditetapkan  dalam hadits tersebut adanya penghamba  dan  yang dihambai, yang mendekatkan diri dan yang didekati, yang mencintai dan  yang dicintai, yang memohon dan yang dimohoni, yang  memberi dan yang diberi, yang minta perlindungan dan yang dimintai,  yang memberi perlindungan dan yang diberi. Jadi konteks hadits  menun­jukkan adanya dua dzat yang saling berbeda, masing-masing berdiri sendiri. Ini berarti bahwa yang satu mustahil menjadi sifat  bagi yang lain, atau menjadi salah satu bagiannya.

Kedua: telinga si Wali, matanya, tangannya, dan kakinya, semua itu  merupakan sifat atau anggota tubuh pada makhluk yang hadits (baru) yang menjadi ada setelah tidak ada sebelumnya. Bagi orang yang berakal tidak mungkin memahami bahwa Al-Khaliq (Maha Pencipta) Yang Maha pertama, yang sebelumnya tidak ada satu makhlukpun, lalu  menjadi  alat mendengar, alat melihat, tangan dan  kaki  si makhluk. Bahkan hati merasa muak untuk  membayangkan  pengertian ini,  dan lisan pun terasa kelu untuk  mengucapkannya,  sekalipun hanya sekadar pengendalian saja. Oleh karena itu, bagaimana bisa dikatakan  bahwa pengertian inilah dhahir hadits qudsi  tersebut, dan  bahwa  pengertian hadits di atas telah dirubah  dari  dhahir ini. Maha Suci Engkau Ya Allah. Segala puji bagi Engkau. (Syaikh Utsaimin, Kaidah-kaidah Utama Masalah Asma' dan Sifat Allah  SWT, CV MUS Jakarta, 1998, hal. 108-110).

Selanjutnya, Syaiklh Utsaimin menjelaskan, setelah ternyata bahwa perkataan pertama salah dan tidak dapat dibenarkan,  sudah barang  tentu yang benar adalah perkatan yang kedua  yaitu  bahwa Allah SWT meluruskan atau membenarkan si Wali dalam  pendengaran, penglihatan, gerakan tangan dan langkah kakinya, sehingga  dengan demikian pengetahuannya melalui pendengaran dan penglihatan serta perbuatan  dengan  tangan dan kaki, semua  itu lillaah  --ikhlas untuk  Allah, billaah --dengan memohon  pertolonganNya, fillaah--menuruti dan mengikuti syari'atNya.

Dengan demikian, dia benar-benar telah mewujudkan ikhlas, minta pertolonganNya (isti'anah), dan mengikuti syari'atnya (mutaba'ah) secara sempurna. Inilah taufiq (persetujuan/pertolongan Allah) yang sesungguhnya. Dan inilah tafsiran yang diberikan oleh ulama Salaf, tafsiran yang sesuai dengan dhahir  lafadh­nya,  menurut hakekatnya dan tepat dengan konteksnya. Tidak ada ta'wil di dalamnya atau alterasi (perubahan) nash/teks dari dhahirnya. Hanya milik Allah segala puji dan karunia.

Tentang Allah dekat

Allah berfirman:
Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka  (jawa­blah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku  mengabulkan permohonan orang yang mendo'a apabila ia berdo'a kepada-Ku...(QS Al-Baqarah: 186).
Para ulama Salaf, Ahlus Sunnah wal Jama'ah, memberlakukan nash ini menurut dhahirnya dan hakekat maknanya yang layak bagi  Allah Azza wa Jalla, tanpa takyif (bagaimana caranya) dan tanpa tamtsil (permisalan).

Syaikhul  Islam Ibnu Taimiyyah dalam komentarnya  atas  hadits nuzul  (turunnya Allah ke langit dunia/  terendah),  mengatakan: "Adapun mendekatnya Allah kepada sebagian hamba-Nya maka hal  ini ditetapkan oleh mereka yang menetapkan datangnya Allah pada  hari kiamat,  turunnya  Allah ke langit terendah, dan  bersemayamnya Allah  di  atas 'arsy. Inilah madzhab Salaf,  madzhab  para imam Islam  yang  terkenal dan Madzhab Ahlul Hadits.  Dan  pemberitaan mengenai  hal ini dari mereka adalah mutawatir." (Majmu'  Fatawa, jilid 5, halaman 466).

Jika  demikian halnya, lalu apakah halangannya bila  dikatakan bahwa  Allah mendekat  kepada hamba-Nya yang  Dia  kehendaki  di samping  Dia  berada di atas 'Arsy. Dan apakah  halangannya  bila dikatakan  Dia menurut yang Dia kehendaki tanpa takyif dan  tanpa tamsil?
Bukankah  ini merupakan kesempurnaan Allah, jika  Dia  berbuat apa  yang dikehendaki-Nya menurut pengertian yang  sesuai  dengan keagungan dan kemuliaan-Nya?

Perpaduan antara ma'iyah (kebersamaan) dan 'uluw (keberadaan di atas) bisa terjadi pada makhluk. Soalnya, dikatakan: "Kami  masih meneruskan  perjalanan dan rembulan pun bersama kami". Ini  tidak dianggap bertentangan, padahal sudah barang tentu bahwa orang yang melakukan perjalanan itu berada di bumi sedangkan rembulan berada di langit. Apabila hal ini bisa terjadi pada makhluk, maka bagaimana pikiran Anda dengan Al-Khaliq yang meliputi segala sesuatu?

Bagi Allah yang demikian itu hal-Nya, apakah tidak bisa dikatakan  bahwa  Dia bersama Makhluk-Nya di  samping  Dia  Maha Tinggi berada di atas mereka, terpisah dari mereka, bersemayam di atas 'arsy-Nya." (Kaidah-kaidah Utama..., hal. 156).  

Maka lemahlah alasan-alasan orang shufi dan pendukungnya  yang menganggap bahwa  ayat-ayat dan hadits-hadits  tersebut  sebagai landasan tasawwuf.
Syeikh  'Utsaimin menegaskan, ayat ...Dan Dia bersama kamu  di manapun kamu berada." (QS 57:4); ma'iyah (kebersamaan) ini  tidak berarti  Allah SWT bercampur dengan makhluk atau tinggal  bersama di  tempat mereka. Sama sekali tidak menunjukkan pengertian  ini. 

Karena  ini adalah makna bathil yang mustahil bagi Allah Azza  wa Jalla, padahal tidak mungkin makna dari firman Allah  dan  sabda Rasul-Nya adalah sesuatu yang mustahil lagi bathil.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Al-'Aqidah Al-Waasithiyah (hal. 115, cetakan ketiga, komentar Muhammad Khalil  Al-Harras), mengatakan:

"Dan  pengertian  dari  firman-Nya: "Dan  Dia  bersama  kamu", bukanlah  berarti bahwa Allah itu bercampur  dengan  makhluk-Nya karena hal ini tidak dibenarkan oleh bahasa. Bahkan, bulan  seba­gai  satu tanda dari tanda-tanda (kemahatinggian dan  kebesaran) Ilahi,  yang  termasuk di antara makhluk-Nya  yang  terkecil  dan terletak di langit itu, tetapi dia dikatakan bersama musafir  dan yang bukan musafir di mana saja berada."
Komentar  Syeikh 'Utsaimin: Tidak ada orang  yang  berpendapat dengan makna bathil (Allah bercampur dengan makhluk atau  tinggal bersama di tempat mereka) ini kecuali Al-Hululiyah (Pantheisme) seperti orang-orang  terdahulu dari Jahmiyah dan  selain  mereka yang  mengatakan  bahwa Allah dengan dzat-Nya  berada  di setiap tempat.  Maha  suci Allah dari perkataan mereka  dan  amat  besar dosanya ucapan  yang keluar dari mulut mereka. Apa  yang  mereka katakan tiada lain adalah kebatilan.

Perkataan mereka ini telah dibantah oleh para ulama Salaf  dan imam  yang sempat menjumpainya, karena perkataan tersebut  menim­bulkan  beberapa  konsekwensi yang tidak  dapat  dibenarkan  yang menunjukkan  bahwa  Allah mempunyai  sifat-sifat  kekurangan  dan mengingkari keberadaan Allah di atas makhluk-Nya.
Bagaimana  seseorang bisa mengatakan bahwa dzat  Allah  berada pada setiap tempat, atau Allah bercampur dengan makhluk,  padahal Allah SWT itu "KursiNya meliputi langit dan bumi" (QS 2:255), dan "Bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan  langit digulung  dengan  tangan kanan-Nya"  (QS 39:67)?  (Kaidah-kaidah Utama... (hal.152). 

Kebatilan dalih  kaum  shufi dan  pendukungnya  telah  nyata. Masihkah akan diikuti, didukung, dan dipertahankan?  


Tasawuf Belitan Iblis
- H Hartono Ahmad Jaiz –

Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar