Hadits tersebut di atas
menjadi salah satu syubhat/ kesamaran yang dijawab oleh Syaikh Muhammad bin
Shalih Al-'Utsaimin dalam kitabnya, Al-Qowaa'id al-Mutslaa fii Shifaatillaah wa
Asmaa-ihil Husna.
Menurut Syaikh
'Utsaimin, hadits tersebut shahih, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab
ar-Riqaq, bab tawadhu'.
Golongan Salaf, Ahlus
Sunnah wal Jama'ah, telah memahami hadits ini menurut dhahirnya dan
memberlakukannya menurut apa adanya.
Akan tetapi, apakah
dhahir dari hadits ini?
Apakah dikatakan: Dhahir
hadits ini bahwa Allah SWT menjadi telinga, mata, tangan dan kaki si Wali?
Ataukah dikatakan: Dhahirnya bahwa Allah SWT meluruskan atau membenarkan si Wali
dalam pendengaran, penglihatan, gerakan tangan dan langkah kakinya,
sehingga pengetahuan dan amal perbuatannya lillaah (ikhlas karena Allah),
billaah (dengan memohon pertolongan Allah), dan fillaah (menuruti syari'at
Allah)?
Tidak diragukan lagi,
ungkap Syaikh Utsaimin, bahwa perkataan pertama bukanlah dhahir dari hadits
tersebut. Bahkan, bagi orang yang memperhatikan lafadznya, hadits ini tidak
menunjukkan pengertian itu. Soalnya, terdapat dalam lafadh hadits ini dua
alasan yang menolak pengertian tadi (Allah menjadi telinga dst):
Pertama: bahwa Allah SWT
berfirman dalam hadits Qudsi ini:
Dan hamba-Ku yang
senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan amal-amal sunnah, maka
Aku senantiasa mencintainya." dan berfirman pula:
Bila ia memohon
kepada-Ku, Aku perkenankan permohonannya, jika ia meminta perlindungan, ia
Kulindungi."
Ditetapkan dalam hadits
tersebut adanya penghamba dan yang dihambai, yang mendekatkan diri dan yang
didekati, yang mencintai dan yang dicintai, yang memohon dan yang dimohoni,
yang memberi dan yang diberi, yang minta perlindungan dan yang dimintai, yang
memberi perlindungan dan yang diberi. Jadi konteks hadits menunjukkan adanya
dua dzat yang saling berbeda, masing-masing berdiri sendiri. Ini berarti bahwa
yang satu mustahil menjadi sifat bagi yang lain, atau menjadi salah satu
bagiannya.
Kedua: telinga si Wali,
matanya, tangannya, dan kakinya, semua itu merupakan sifat atau anggota tubuh
pada makhluk yang hadits (baru) yang menjadi ada setelah tidak ada sebelumnya.
Bagi orang yang berakal tidak mungkin memahami bahwa Al-Khaliq (Maha Pencipta)
Yang Maha pertama, yang sebelumnya tidak ada satu makhlukpun, lalu menjadi
alat mendengar, alat melihat, tangan dan kaki si makhluk. Bahkan hati merasa
muak untuk membayangkan pengertian ini, dan lisan pun terasa kelu untuk
mengucapkannya, sekalipun hanya sekadar pengendalian saja. Oleh karena itu,
bagaimana bisa dikatakan bahwa pengertian inilah dhahir hadits qudsi tersebut,
dan bahwa pengertian hadits di atas telah dirubah dari dhahir ini. Maha Suci
Engkau Ya Allah. Segala puji bagi Engkau. (Syaikh Utsaimin, Kaidah-kaidah Utama
Masalah Asma' dan Sifat Allah SWT, CV MUS Jakarta, 1998, hal.
108-110).
Selanjutnya, Syaiklh
Utsaimin menjelaskan, setelah ternyata bahwa perkataan pertama salah dan tidak
dapat dibenarkan, sudah barang tentu yang benar adalah perkatan yang kedua
yaitu bahwa Allah SWT meluruskan atau membenarkan si Wali dalam pendengaran,
penglihatan, gerakan tangan dan langkah kakinya, sehingga dengan demikian
pengetahuannya melalui pendengaran dan penglihatan serta perbuatan dengan
tangan dan kaki, semua itu lillaah --ikhlas untuk Allah, billaah --dengan
memohon pertolonganNya, fillaah--menuruti dan mengikuti syari'atNya.
Dengan demikian, dia
benar-benar telah mewujudkan ikhlas, minta pertolonganNya (isti'anah), dan
mengikuti syari'atnya (mutaba'ah) secara sempurna. Inilah taufiq
(persetujuan/pertolongan Allah) yang sesungguhnya. Dan inilah tafsiran yang
diberikan oleh ulama Salaf, tafsiran yang sesuai dengan dhahir lafadhnya,
menurut hakekatnya dan tepat dengan konteksnya. Tidak ada ta'wil di dalamnya
atau alterasi (perubahan) nash/teks dari dhahirnya. Hanya milik Allah segala
puji dan karunia.
Tentang Allah dekat
Allah
berfirman:
Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo'a apabila ia berdo'a kepada-Ku...(QS Al-Baqarah: 186).
Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo'a apabila ia berdo'a kepada-Ku...(QS Al-Baqarah: 186).
Para ulama Salaf, Ahlus
Sunnah wal Jama'ah, memberlakukan nash ini menurut dhahirnya dan hakekat
maknanya yang layak bagi Allah Azza wa Jalla, tanpa takyif (bagaimana caranya)
dan tanpa tamtsil (permisalan).
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah dalam komentarnya atas hadits nuzul (turunnya Allah ke langit
dunia/ terendah), mengatakan: "Adapun mendekatnya Allah kepada sebagian
hamba-Nya maka hal ini ditetapkan oleh mereka yang menetapkan datangnya Allah
pada hari kiamat, turunnya Allah ke langit terendah, dan bersemayamnya Allah
di atas 'arsy. Inilah madzhab Salaf, madzhab para imam Islam yang terkenal
dan Madzhab Ahlul Hadits. Dan pemberitaan mengenai hal ini dari mereka adalah
mutawatir." (Majmu' Fatawa, jilid 5, halaman 466).
Jika demikian halnya,
lalu apakah halangannya bila dikatakan bahwa Allah mendekat kepada hamba-Nya
yang Dia kehendaki di samping Dia berada di atas 'Arsy. Dan apakah
halangannya bila dikatakan Dia menurut yang Dia kehendaki tanpa takyif dan
tanpa tamsil?
Bukankah ini merupakan
kesempurnaan Allah, jika Dia berbuat apa yang dikehendaki-Nya menurut
pengertian yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya?
Perpaduan antara ma'iyah
(kebersamaan) dan 'uluw (keberadaan di atas) bisa terjadi pada makhluk. Soalnya,
dikatakan: "Kami masih meneruskan perjalanan dan rembulan pun bersama kami".
Ini tidak dianggap bertentangan, padahal sudah barang tentu bahwa orang yang
melakukan perjalanan itu berada di bumi sedangkan rembulan berada di langit.
Apabila hal ini bisa terjadi pada makhluk, maka bagaimana pikiran Anda dengan
Al-Khaliq yang meliputi segala sesuatu?
Bagi Allah yang demikian
itu hal-Nya, apakah tidak bisa dikatakan bahwa Dia bersama Makhluk-Nya di
samping Dia Maha Tinggi berada di atas mereka, terpisah dari mereka,
bersemayam di atas 'arsy-Nya." (Kaidah-kaidah Utama..., hal. 156).
Maka lemahlah
alasan-alasan orang shufi dan pendukungnya yang menganggap bahwa ayat-ayat dan
hadits-hadits tersebut sebagai landasan tasawwuf.
Syeikh 'Utsaimin
menegaskan, ayat ...Dan Dia bersama kamu di manapun kamu berada." (QS 57:4);
ma'iyah (kebersamaan) ini tidak berarti Allah SWT bercampur dengan makhluk
atau tinggal bersama di tempat mereka. Sama sekali tidak menunjukkan
pengertian ini.
Karena ini adalah makna
bathil yang mustahil bagi Allah Azza wa Jalla, padahal tidak mungkin makna dari
firman Allah dan sabda Rasul-Nya adalah sesuatu yang mustahil lagi
bathil.
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah dalam Al-'Aqidah Al-Waasithiyah (hal. 115, cetakan ketiga, komentar
Muhammad Khalil Al-Harras), mengatakan:
"Dan pengertian dari
firman-Nya: "Dan Dia bersama kamu", bukanlah berarti bahwa Allah itu
bercampur dengan makhluk-Nya karena hal ini tidak dibenarkan oleh bahasa.
Bahkan, bulan sebagai satu tanda dari tanda-tanda (kemahatinggian dan
kebesaran) Ilahi, yang termasuk di antara makhluk-Nya yang terkecil dan
terletak di langit itu, tetapi dia dikatakan bersama musafir dan yang bukan
musafir di mana saja berada."
Komentar Syeikh
'Utsaimin: Tidak ada orang yang berpendapat dengan makna bathil (Allah
bercampur dengan makhluk atau tinggal bersama di tempat mereka) ini kecuali
Al-Hululiyah (Pantheisme) seperti orang-orang terdahulu dari Jahmiyah dan
selain mereka yang mengatakan bahwa Allah dengan dzat-Nya berada di setiap
tempat. Maha suci Allah dari perkataan mereka dan amat besar dosanya ucapan
yang keluar dari mulut mereka. Apa yang mereka katakan tiada lain adalah
kebatilan.
Perkataan mereka ini
telah dibantah oleh para ulama Salaf dan imam yang sempat menjumpainya, karena
perkataan tersebut menimbulkan beberapa konsekwensi yang tidak dapat
dibenarkan yang menunjukkan bahwa Allah mempunyai sifat-sifat kekurangan
dan mengingkari keberadaan Allah di atas makhluk-Nya.
Bagaimana seseorang
bisa mengatakan bahwa dzat Allah berada pada setiap tempat, atau Allah
bercampur dengan makhluk, padahal Allah SWT itu "KursiNya
meliputi langit dan bumi" (QS 2:255), dan "Bumi seluruhnya dalam
genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya"
(QS 39:67)? (Kaidah-kaidah Utama... (hal.152).
Kebatilan dalih kaum
shufi dan pendukungnya telah nyata. Masihkah akan diikuti, didukung, dan
dipertahankan?
Tasawuf Belitan Iblis
- H Hartono Ahmad Jaiz –
Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar